Bagian ke 10 ( Peramal Lihb dan Pendeta Buhaira )
*Mengikuti Paman Abu Thalib*
Hati
Muhammad kecil merasa pengap dengan kehidupan di Mekah. Setiap hari,
dilihatnya anak-anak fakir miskin seusianya bekerja bersama-sama dengan
bertelanjang tanpa rasa malu.
Muhammad
juga melihat setiap malam pintu rumah orang-orang kaya tertutup rapat.
Di dalam, mereka berpesta pora, menyaksikan para penari, dan
bermabuk-mabukan sampai pagi sambil dijaga oleh para budak. Padahal, di
tempat lain, ia melihat orang-orang berjuang mencari rezeki antara hidup
dan mati.
Muhammad
sering sekali melintas di depan gubuk-gubuk reyot dan rumah-rumah kumuh.
Pintu-pintu mereka juga tertutup rapat, tetapi di dalamnya tinggal
orang-orang yang hidup menderita. Orang-orang itu jika tidak memiki
bahan makanan, besok atau lusa terpaksa menggadaikan anak gadis, istri
atau ibunya untuk dikumpulkan menjadi budak para saudagar demi
melepaskan diri dari lilitan hutang.
Di
depan gubuk-gubuk itu, Muhammad melihat para pemuda berkumpul. Pikiran
mereka dipenuhi impian tentang datangnya mukjizat yang akan mampu
membebaskan Mekah dari kebiadaban. Para pemuda itu berkumpul
mengelilingi seorang laki-laki yang bercerita tentang legenda-legenda
indah orang-orang terdahulu yang berjuang melawan raja yang
sewenang-wenang.
Suatu saat, pada usia Muhammad 12 tahun, Abu Thalib berniat pergi berdagang ke Syam untuk mencari nafkah.
"Ajaklah aku, Paman!" pinta Muhammad
"Tetapi,
perjalanan padang pasir begitu sulit dan jauh! Aku tidak tega mengajak
anak sekecilmu menempuh kesulitan sedemikian berat!".
Saat
itu, hanya Abu Thalib tempat Muhammad berlindung. Ia merasa amat
kesepian jika harus menghadapi kehidupan Mekah seorang diri, tanpa ada
paman di sampingnya.
"Kepada siapakah Paman akan meninggalkan aku seorang diri apabila Paman pergi nanti?" tanya Muhammad begitu mengiba.
Abu Thalib sangat terharu,
"Demi
Allah, aku pasti membawanya pergi. Ia tidak boleh berpisah denganku dan
aku tidak boleh berpisah dengannya selama-lamanya."
*Lihb Si Peramal*
Orang-orang Quraisy sering mendatangi Lihb dengan membawa anak-anaknya untuk diramal.
Suatu hari, Lihb melihat Muhammad.
"Kemarilah,
hai anak muda!" serunya. Namun, Abu Thalib segera menyembunyikan
Muhammad dan membawanya pergi hingga Lihb berteriak-teriak,
"Celakalah kalian, bawa ke sini anak muda yang aku lihat tadi! Demi Allah, anak ini akan menjadi orang besar di kemudian hari!"
*Jamuan Buhaira*
Berangkatlah
rombongan kafilah Quraisy menuju ke *Syam 1)*. Ketika tiba di Busra,
mereka melewati rumah ibadah seorang pendeta Nasrani bernama Buhaira. Ia
adalah pendeta yang pandai. Di rumah ibadahnya, selalu ada pendeta dan
umat Nasrani yang menuntut ilmu kepada Buhaira.
Biasanya,
Buhaira tidak pernah menggubris rombongan Quraisy yang setiap tahun
melintas di tempat itu. Namun, kali ini ada yang berubah pada diri
Buhaira. Ketika rombongan Quraisy, termasuk Abu Thalib dan Muhammad,
singgah di dekat rumah ibadahnya, Buhaira memerintahkan para pembantunya
untuk membuat masakan yang banyak.
Buhaira
berbuat begitu karena dari jendela rumah ibadahnya, ia melihat hal yang
aneh pada rombongan Quraisy. Ada awan kecil yang bergerak pelan
mengikuti ke mana pun kafilah pergi. Ada sesuatu atau seorang di dalam
kafilah yang dilindungi awan itu dari terik matahari.
Buhaira bergegas mendatangi kafilah yang tengah beristirahat di bawah pepohonan rindang dan berkata
"Hai
orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian.
Aku ingin kalian semua, anak kecil, orang dewasa, budak, dan orang
merdeka, singgah di rumahku"
Salah seorang Quraisy bertanya,
"Demi
Allah, hai Buhaira, alangkah istimewanya apa yang engkau perbuat kepada
kami hari ini. Padahal, kami sering melewati tempat mu ini. Apa yang
sebenarnya terjadi padamu?"
"Engkau benar," jawab Buhaira,
"dulu
aku memang seperti yang engkau katakan. Namun, kalian, semuanya, adalah
tamuku kali ini dan aku ingin menjamu kalian. Aku telah membuat makanan
dan kalian semuanya harus ikut makan."
Dengan
senang hati, rombongan Quraisy pun masuk ke rumah Buhaira untuk
memenuhi undangannya. Hanya saja, Muhammad tidak ikut karena ia masih
kecil. Ia ditugaskan menjaga perbekalan kafilah.
__________________
1) Negeri *Syam*
Abu Thalib berangkat tahun 582 Masehi ke negeri Syam.
Syam saat itu adalah sebuah negeri yang wilayahnya (sekarang) meliputi Syria, Yordania, dan Palestina.
Syam berada di bawah pemerintahan Romawi Timur
*Percakapan Buhaira*
Akan
tetapi, segera saja Buhaira merasakan ada sesuatu yang kurang dari
rombongan Quraisy itu. Maka, ia kembali mengulangi permintaannya,
"Hai Orang-orang Quraisy, jangan sampai ada yang tidak makan makananku ini."
Salah seorang Quraisy berkata,
"Hai
Buhaira, tidak ada seorang pun tertinggal yang layak datang kepadamu,
kecuali anak muda yang paling kecil di antara kami. Ia berada di tempat
perbekalan rombongan."
Buhaira menggeleng-geleng kepala,
"Kalian jangan seperti itu. Panggil dia untuk makan bersama kalian!."
Orang-orang Quraisy merasa malu. Salah seorang dari mereka bahkan berkata,
"Demi Lata dan Uzza, adalah aib dari kami kalau putra Abdullah bin Abdul Muthalib tidak ikut makan bersama kami."
Setelah
Muhammad dipanggil, Buhaira memeluknya dan mendudukkannya bersama
rombongan Quraisy yang lain. Sambil menyaksikan tamu-tamunya makan,
sebenarnya mata Buhaira tertuju kepada Muhammad dengan seksama. Dari
hasil pengamatannya itulah, Buhaira mengambil kesimpulan dalam hati,
"Anak ini mempunyai sifat-sifat kenabian."
Jamuan
selesai. Sambil mengucapkan terimakasih, rombongan Quraisy pun
membubarkan diri menuju tempat perkemahan mereka untuk beristirahat.
Namun, Buhaira tidak membiarkan Muhammad pergi. Diajaknya anak itu untuk duduk dan bicara.
"Hai anak muda," panggil Buhaira,
"dengan menyebut nama Lata dan Uzza, aku akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadamu dan engkau harus menjawabnya."
Wajah Muhammad tampak berubah dan ia menjawab,
"Jangan
bertanya tentang apa pun kepadaku sambil menyebut nama Lata dan Uzza.
Demi Allah, tidak ada yang sangat aku benci melainkan keduanya."
Buhaira
tersenyum dan mengulangi permintaannya, "Baiklah, kalau begitu aku
akan bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah dan engkau harus
menjawab pertanyaanku."
Wajah Muhammad berubah cerah dan ia mengangguk,
"Tanyakan kepadaku apa saja yang ingin engkau tanyakan."
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد
*Saran Buhaira kepada Abu Thalib*
Buhaira
menanyakan banyak sekali hal kepada Muhammad, tentang tidur Muhammad,
tentang postur tubuh Muhammad, dan banyak lagi hal lainnya.
Muhammad
menjawab semua itu dan semua jawaban itu sesuai benar dengan perkiraan
Buhaira. Kemudian, Buhaira melihat punggung Muhammad dan mendapati tanda
kenabian di antara kedua bahu Muhammad. Tanda kenabian itu seperti
bekas orang berbekam.
Setelah itu, Buhaira mendekati Abu Thalib dan bertanya kepada nya, ''apakah anak muda ini anakmu? ''
''Iya, dia anakku." Jawab Abu Thalib
Buhaira menggeleng.
"Tidak, dia bukan anakmu. Anak muda ini tidak pantas mempunyai ayah yang masih hidup"
Abu Thalib agak tercengang, lalu dia pun mengangguk.
"Kau benar. Dia bukan anakku, dia anak saudaraku"
Buhaira mengangguk-angguk puas lalu bertanya lagi.
"Apa yang dikerjakan ayahnya?"
"Ayahnya telah meninggal dunia ketika dia masih berada dalam kandungan ibunya "
"Engkau
benar" kata Buhaira menghela nafas dalam-dalam. Kemudian, sambil
berbisik, dia menyampaikan sebuah saran dengan sangat sungguh-sungguh.
"Sekarang,
dengar saranku baik-baik. Bawa anak saudara mu ini ke negeri asalmu
sekarang juga! Jaga dia dari orang-orang Yahudi! Demi Allah, jika mereka
melihat padanya seperti apa yang aku lihat, mereka pasti akan
membunuhnya. sesungguhnya, akan terjadi sesuatu yang besar pada diri
anak saudaramu ini. Karena itu, segera bawa pulang dia ke negeri
asalmu!"
Abu Thalib
tampak ketakutan dengan peringatan itu. Dia yakin bahwa apa yang
dikatakan Buhaira itu benar. Maka dari itu, segera setelah urusan
perdagangannya selesai, Abu Thalib segera membawa Muhammad pulang.
Sesulit apa pun beban hidupnya, Abu Thalib tidak pernah lagi pergi
berdagang ke tempat jauh demi melindungi keponakannya itu.
*Bushra* (kota di mana Buhaira tinggal)
Jalur
yang dilewati kafilah Abu Thalib adalah jalan kafilah Barat yang
menyusuri Laut Merah, Madyan, Wadi Al Qurra, Hijir, dan Kota Bushra.
Kota Bushra atau Bostra telah lama didirikan Romawi sebagai ibu kota wilayah Hauran, untuk menahan serbuan Badui pedalaman.
Di kota ini, Romawi memusatkan pasukan dan mengumpulkan pajak dari para kafilah.
Bagi kafilah sendiri, Bostra adalah pusat perdagangan paling ramai sebelum tiba di Syria yang terletak lebih ke Utara.
Perlindungan Allah*
Abu Thalib segera melaksanakan apa yg disarankan oleh Buhaira, karena peringatan itu memang beralasan.
Segera,
setelah Abu Thalib dan Muhammad meninggalkan rumah Buhaira, datanglah 3
orang ahli kitab bernama Zurair, Daris, dan Tammam kepada Buhaira.
Ketiganya menyandang senjata di pinggang. Mereka bertanya kepadac
Buhaira apakah ia juga melihat seorang anak dengan ciri-ciri seperti ini
dan itu.
Buhaira tahu
bahwa mereka mencari Muhammad. Rupanya, ketiga orang ini juga telah
mendengar tentang Muhammad. Buhaira memandang senjata2 yang mereka bawa
dengan perasaan ngeri.
Buhaira tahu mereka mencari
Muhammad dengan maksud membunuhnya. Oleh karena itu, Buhaira berusaha
memberikan perlindungan kepada Muhammad.
Tidak
henti-hentinya Buhaira menasihati ketiga tamunya akan adanya kekuasaan
Allah. Diingatkannya bahwa bagaimanapun usaha mereka, mereka tidak akan
mampu mendekati Muhammad untuk membunuhnya.
Akhirnya,
ketiganya pun melihat kebenaran dalam perkataan Buhaira. Batallah niat
mereka untuk mengejar dan membunuh Muhammad, kemudian berlalulah mereka
dari hadapan Buhaira.
Allah
menjaga Muhammad dari kejahatan dan kotoran-kotoran jahiliyah. Allah
membimbing Muhammad tumbuh menjadi orang yang paling ksatria, paling
baik akhlaknya, paling mulia asal-usulnya, paling baik pergaulannya,
paling agung sikap santunnya, paling murni kejujurannya, paling jauh
dari keburukan dan akhlak yang mengotori kaum lelaki sehingga semua
orang menjulukinya *"Al Amin"* karena Allah mengumpulkan sifat-sifat itu
pada diri Muhammad.
*Kelak
setelah menjadi Rasul,* Muhammad bercerita tentang perlindungan Allah
kepadanya sejak masa kecil dari segala bentuk kejahiliyahan. Rasulullah
bersabda,
"Pada masa
kecilku, aku bersama anak-anak kecil Quraisy mengangkut batu untuk satu
permainan yang biasa dilakukan anak-anak. Semua dari kami melepas baju
untuk alas di atas pundak (sebagai ganjalan) untuk memikul batu.
"Aku
maju dan mundur bersama mereka. Namun, tiba-tiba seseorang yang belum
pernah aku lihat sebelumnya menamparku dengan tamparan yang amat
menyakitkan. Ia berkata, 'Kenakan pakaianmu!' Kemudian, aku mengambil
pakaianku dan memakainya. Setelah itu, aku memikul batu di atas pundakku
dengan tetap mengenakan pakaian dan tidak seperti teman temanku."
*Membantu Paman*
Muhammad juga pernah menjadi gembala sewaan, untuk membantu Abu Thalib yang hidup dalam kemiskinan