Bagian Ke 8 ( Tanda-tanda Rosul terakhir )
Halimah dan suaminya mengembalikan Muhammad kepada Aminah. Alangkah bahagianya Aminah bertemu lagi dengan putra tunggalnya itu.
Halimah dan suaminya mengembalikan Muhammad kepada Aminah. Alangkah bahagianya Aminah bertemu lagi dengan putra tunggalnya itu.
"Lihat! Kini engkau tumbuh menjadi anak yang tegap dan sehat!" ujar Aminah.
Aminah
memandang Halimah dan suaminya dengan mata berbinar-binar penuh rasa
terimakasih," Kalian telah merawat Muhammad dengan baik, bagaimana aku
harus berterimakasih?"
Halimah
dan suaminya berpandangan dengan gelisah. Sebenarnya mereka merasa
berat berpisah dengan Muhammad. Mereka amat menyayangi anak itu. Selain
itu, sejak Muhammad datang, kehidupan mereka dipenuhi keberkahan.
"Kami
cuma berharap andaikan saja engkau sudi membiarkan anak ini tetap
bersama kami hingga menjadi besar. Sebab, aku khawatir ia terserang
penyakit menular yang kudengar kini sedang mewabah di Mekah," pinta
Halimah.
Aminah menyadari
bahwa yang mereka pinta dan katakan ada benarnya, tetapi hatinya
bimbang karena hampir tak sanggup berpisah lagi dengan putranya. Ketika,
Abdul Muthalib datang. Bangga sekali ia melihat pertumbuhan cucunya
yang begitu bagus di daerah pedalaman, maka ia berkata:
"Aku
ingin Muhammad kembali ke Dusun Bani Sa'ad sampai ia berusia lima
tahun," kata Abdul Muthalib, "agar ia di situ belajar berkata-kata dan
telinganya terbiasa mendengarkan bahasa Arab yang murni dengan fasih
pula."
Aminah mengerti bahwa ia harus kembali melepas Muhammad demi masa depan putranya sendiri.
"Beri aku waktu beberapa hari bersama putraku, setelah itu bolehlah kalian membawanya kembali," kata Aminah.
Akhirnya,
Muhammad pun dibawa kembali ke dusun Bani Sa'ad. Namun, di sana ia
mengalami sebuah peristiwa yang sangat mengguncangkan.
*Pembelahan Dada*
Peristiwa
itu terjadi tidak lama setelah keluarga Halimah kembali ke pedalaman.
Saat itu umur Muhammad belum lagi genap tiga tahun.
Hari
itu, Muhammad kecil ikut menggembalakan kambing bersama
saudara-saudaranya. Tiba-tiba salah seorang putra Halimah datang
berlari-lari sambil menangis.
"Ada apa?" Tanya Halimah dan suaminya panik.
"Saudaraku
yang dari Quraisy itu! Dia diambil oleh seorang laki-laki berbaju
putih. Dia dibaringkan. Perutnya dibelah sambil dibalik-balikkan!"
Halimah
dan Harits segera berlari mencari Muhammad. Mereka menemukan anak itu
sedang sendiri. Wajah Muhammad pucat pasi. Halimah dan suaminya
memperhatikan wajah Muhammad baik-baik.
"Apa yang terjadi padamu, Nak?" tanya mereka.
"Aku
didatangi oleh seorang laki-laki berpakaian putih. Aku dibaringkan lalu
perutku dibedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Aku tak tahu apa
yang mereka cari."
Tanpa bertanya lagi Halimah segera membawa Muhammad pulang. Hatinya dipenuhi kecemasan.
"Aku takut Muhammad didatangi dan digoda oleh jin" kata Halimah kepada suaminya.
"Lebih baik kita membawanya kembali ke Mekah," jawab Harits
*Percakapan dengan Aminah *
Karena
kejadian itu, Halimah kembali ke Mekah dan menyerahkan Muhammad kepada
ibunya. Aminah menerima kedatangan mereka dengan rasa heran,
"Mengapa engkau mengantarkannya kepadaku, wahai ibu susuan? Padahal sebelumnya engkau meminta ia tinggal denganmu?"
"Ya," jawab Halimah,
"Allah
telah membesarkan Muhammad. Aku sudah menyelesaikan apa yang menjadi
tugasku. Aku merasa takut karena ada banyak kejadian terjadi padanya.
Jadi, ia aku kembalikan kepadamu seperti yang engkau inginkan."
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Aminah, "berkatalah dengan benar kepadaku."
Halimah
terdiam sejenak, lalu bercerita dengan rasa berat, "Ada dua orang
berbaju putih membawanya ke puncak bukit. Mereka membelah dan
mengeluarkan sesuatu dari dalam dadanya."
Setelah berkata demikian, Halimah mengangkat wajahnya memandang Aminah, tetapi ia terkejut melihat wajah Aminah demikian tenang.
"Apakah engkau takut setanlah yang mengganggunya?" tanya Aminah.
Halimah mengangguk,
"Itulah sebenarnya yang membuatku khawatir sehingga cepat-cepat mengembalikannya kepadamu."
Aminah menarik napas.
"Demi Allah," katanya,
"Setan
tidak akan mendapatkan jalan untuk masuk ke dalam jiwa Muhammad.
Sesungguhnya, anakku akan menjadi orang besar di kemudian hari. Ketika
aku mengandungnya, aku melihat sinar keluar dari perutku. Dengan sinar
tersebut aku bisa melihat istana-istana Busra di Syam menjadi
terang-benderang.
Demi Allah, aku belum pernah
melihat orang mengandung yang lebih ringan dan lebih mudah seperti yang
kurasakan. Ketika aku melahirkannya, ia meletakkan tangannya di tanah
dan kepalanya menghadap ke langit."
Halimah mendengar semua itu dengan takjub. Aminah menyentuh tangan Halimah dan berkata lembut,
"Biarkan ia bersamamu dan pulanglah dengan tenang."
Muhammad
kecil pun kembali dibawa pulang. Namun, lagi-lagi terjadi sebuah
peristiwa yang akhirnya membuat Halimah benar-benar khawatir dan
mengembalikan Muhammad kepada ibunya.
*Orang-Orang Habasyah*
"Kak,
tunggu!" seru Muhammad sambil berlari menuruni bukit. Saat itu, usia
Muhammad sudah 5 tahun. Ia sedang berlari mengejar saudara-saudaranya,
yaitu anak-anak Halimah. Mereka sedang menggembala kambing.
"Ayo Muhammad kejar kami kalau bisa!" ujar Syaima, anak perempuan sulung Halimah sambil tertawa.
Anak-anak itu terus bermain. Diam-diam, ada beberapa orang Nasrani dari Habasyah sedang memerhatikan mereka.
"Lihat, Kak! Itu Ibu datang!" seru Muhammad.
Anak-anak menoleh. Mereka memekik senang melihat Halimah datang menjemput.
Namun,
wajah Halimah tampak khawatir. Ia mencurigai beberapa bayangan yang
sedang mengintai sambil berbisik-bisik di kejauhan. Hatinya makin
berdebar ketika orang-orang Habasyah itu datang mendekat. Tanpa
memedulikan dirinya, mereka langsung mendekati Muhammad.
"Paman mau apa?" tanya Muhammad.
"Berbaliklah, Nak! Kami ingin melihat punggungmu!" perintah salah seorang dari mereka.
Muhammad
membalikkan badan, lalu orang-orang Habasyah itu saling pandang dengan
wajah terkejut. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berbalik ke tempat
semula dan kembali berunding berbisik-bisik.
"Kalian bermainlah lagi, Ibu akan mencari tahu apa yang mereka bicarakan!" kata Halimah kepada Muhammad dan saudara-saudaranya.
Diam-diam, Halimah mendekati tempat orang-orang Habasyah itu berada dan terkejut mendengar apa yang mereka katakan,
"Kita
harus merampas anak ini dan membawanya kepada raja di negeri kita. Kita
telah mengetahui seluk beluk tentang dia! Ada tanda di punggungnya yang
meramalkan anak ini kelak akan menjadi orang besar."
Diam-diam, Halimah menjauh,
"Aku harus melarikan Muhammad dari mereka sekarang juga!"
*Tanda-Tanda Rasul Terakhir pada Injil*
Orang-orang
Nasrani Habasyah itu tahu bahwa seorang Rasul terakhir akan
dibangkitkan dan mereka diperintahkan mengikutinya seperti yang tertera
pada Injil di bagian Kitab Ulangan (18): 15-22,
"Bahwa
seorang Nabi di antara kamu, dari antara segala saudaramu dan yang
seperti aku ini, yaitu akan dibangkitkan oleh Tuhan Allah-mu bagi kamu,
maka dia haruslah kamu dengar."
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد
*Muhammad Menghilang*
Halimah
cepat-cepat mengajak Muhammad pergi, namun dari kejauhan orang-orang
Habasyah itu terlihat bergegas mengikuti mereka. Untunglah Halimah
mengenal daerah itu dengan baik, sehingga mereka bisa melepaskan diri
dari kejaran orang-orang Habasyah walaupun dengan susah payah.
Tidak berapa lama kemudian, Halimah berkemas menyiapkan Muhammad untuk segera kembali ke Mekah.
Sedih sekali Muhammad harus berpisah dengan saudara-saudaranya. Syaima, Unaisah, dan Abdullah.
"Muhammad, jangan lupakan kami ya?" pinta Syaima dengan mata berkaca-kaca.
Muhammad
mengangguk sambil memeluk mereka satu persatu. Kemudian, berangkatlah
Muhammad meninggalkan dusun Bani Sa'ad dengan semua kenangan indah yang
tidak akan pernah hilang dari benaknya seumur hidup.
Halimah mengelus kepala Muhammad penuh sayang,
"Bergembiralah, Muhammad. Engkau akan berjumpa dengan ibu dan kakekmu."
Mekah
pada malam hari sangat ramai ketika mereka tiba. Saat melalui
kerumunan orang itulah, Muhammad terpisah dan hilang. Halimah
kebingungan. Ia takut orang-orang Habasyah itu diam-diam masih mengikuti
mereka dan mengambil kesempatan ini untuk menculik Muhammad.
Sambil
menangis, Halimah mendatangi Abdul Muthalib, "Sungguh, pada malam ini,
aku datang dengan Muhammad, namun ketika aku melewati Mekah Atas, ia
menghilang dariku. Demi Allah, aku tidak tahu di mana kini ia berada."
Setelah
memerintahkan orang untuk mencari, Abdul Muthalib berdiri di samping
Ka'bah, lalu berdoa kepada Allah agar Dia mengembalikan Muhammad
kepadanya.
Tidak lama kemudian, datanglah seseorang bernama Waraqah
bin Naufal dan seorang temannya dari Quraisy. Keduanya menyerahkan
Muhammad kepada Abdul Muthalib,
"Ini anakmu, kami menemukannya di Mekah Atas."
Alangkah lega dan gembiranya Abdul Muthalib.
"Cucuku!" katanya sambil mendekap Muhammad.
Abdul Muthalib memperhatikan cucunya dengan wajah berseri-seri, "Apakah kamu mau kakek ajak menunggangi unta yang hebat?"
"Mau. Tetapi, mana untanya kek?"
Sambil tertawa, orang tua itu mengangkat Muhammad dan mendudukkannya di atas bahu.
"Kau kini telah menduduki untanya, Nak! Ha....ha....ha...."
"Wah, unta hebatnya kok sudah tua ya Kek?"
"Biar tua, tapi ini unta yang hebat, cucuku! Lihat unta ini mampu mengajakmu berthawaf mengelilingi Ka'bah."
Abdul
Muthalib membawa Muhammad berthawaf di Kabah. Setelah itu ia memintakan
perlindungan Tuhan untuk cucunya itu dan mendoakannya.
"Mari kita menemui ibumu sekarang," ajak Abdul Muthalib.
Alangkah
senangnya anak dan ibu itu ketika mereka saling bertemu. Walaupun
demikian, tersisip kesedihan di hati Muhammad ketika ia melepas Halimah
As Sa'diyah, ibu susu yang selama ini telah merawatnya dengan limpahan
kasih yang demikian besar.
"Selamat tinggal Muhammad. Jadilah orang besar seperti yang pernah dikatakan ibumu," kata Halimah sambil beranjak pergi.
Sampai dewasa, Muhammad tidak pernah memutuskan tali silaturahim dengan ibu susunya itu.
*Gembala Kambing*
Mulai dari hidupnya di Bani Sa'ad sampai masa kecilnya di Mekah, hidup Nabi Muhammad dilalui sebagai seorang gembala.
*Waraqah bin Naufal*
Waraqah bin Naufal adalah paman Khodijah
(kelak menjadi istri Muhammad).
Waraqah
bin Naufal tidak menyukai berhala. Ia tetap mengikuti ajaran Nabi
Ibrahim dan Nabi Ismail, menjadi hamba Allah yang setia.
Ia tidak meminum minuman keras dan tidak berjudi. Ia bermurah hati terhadap orang orang miskin yang membutuhkan pertolongannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar