Bagian Ke 9 ( Muhammad Yatim Piatu )
Di Bawah Asuhan Kakek*
Di Bawah Asuhan Kakek*
Sejak
itu, Abdul Muthalib bertindak sebagai pengasuh cucunya. Ia mengasuh
Muhammad dengan sungguh-sungguh dan mencurahkan segala kasih sayangnya.
Abdul
Muthalib adalah pemimpin seluruh Quraisy dan seluruh Mekah. Untuk dia,
diletakkan hamparan khusus tempatnya duduk di bawah naungan Ka'bah.
Anak-anak beliau, paman-paman Muhammad, tidak ada yang berani duduk di
tempat itu. Mereka duduk di sekeliling hamparan itu sebagai penghormatan
kepada ayah mereka.
Suatu
saat, Muhammad kecil yang montok itu duduk di atas hamparan tersebut.
Serentak paman-paman beliau langsung memegang dan menahan Muhammad agar
tidak duduk di atas hamparan. Namun, ketika Abdul Muthalib datang dan
melihat kejadian tersebut, berkata:
"Biarkan anakku itu," katanya, "Demi Allah, sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung."
Kemudian,
Abdul Muthalib duduk di atas hamparan tersebut sambil memangku
Muhammad. Dielus-elusnya punggung Muhammad penuh sayang. Abdul Muthalib
bergembira dengan apa yang dilakukan cucunya itu.
Lebih-lebih
lagi, kecintaan kakek kepada cucunya itu timbul ketika Aminah kemudian
berniat membawa Muhammad ke Yatsrib untuk diperkenalkan kepada
saudara-saudara ibunya dari keluarga Najjar.
Perjalanan
ini juga bertujuan menengok makam Abdullah, ayah Muhammad. Sudah lama
Aminah memendam keinginan untuk menengok makam suami tercintanya itu.
Kini, ia akan berangkat dengan ditemani putranya seorang.
*Aminah Wafat*
Dalam
perjalanan itu, Aminah membawa Ummu Aiman, budak perempuan peninggalan
Abdullah. Sesampainya di Yatsrib, mereka disambut oleh saudara-saudara
Aminah. Kepada Muhammad diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal
dulu serta tempat ia dikuburkan.
Itu
adalah saat pertama Muhammad benar-benar merasa dirinya sebagai anak
yatim. Apalagi ia mendengar ibunya bercerita panjang lebar tentang sang
ayah tercinta yang setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama, kemudian
meninggal dunia.
(Di
kemudian hari, setelah hijrah, pernah juga Rasulullah SAW menceritakan
kepada sahabat-sahabatnya tentang kisah perjalanan masa kecil beliau ke
Yatsrib yang saat itu telah berubah nama menjadi Madinah.
Beliau
amat terkenang dengan perjalanan bersama ibunya itu, kisah perjalanan
penuh cinta pada Madinah, kisah penuh duka pada orang yang ditinggalkan
keluarganya.)
Sesudah
cukup sebulan tinggal di Madinah, mereka pun bersiap pulang. Mereka
berjalan dengan menggunakan dua ekor unta yang mereka bawa dari Mekah.
Akan
tetapi, di tengah perjalanan, di sebuah tempat bernama Abwa*), Aminah
menderita sakit hingga kemudian meninggal di tempat itu.
"Ibu! Ibu!" panggil Muhammad kepada ibunya yang sudah wafat.
Dalam pelukan Ummu Aiman, dengan air mata meleleh, Muhammad menyaksikan tubuh ibunya dikuburkan di tempat itu.
Pada usia enam tahun. Muhammad SAW telah menjadi seorang anak yatim piatu.
*) *Abwa*
Abwa adalah sebuah dusun yang terletak di antara Madinah dengan Juhfa. Jaraknya 37 km dari Madinah
*Abdul Muthalib Wafat*
Muhammad
dibawa pulang oleh Ummu Aiman. Ia pulang sambil menangis hatinya pilu
karena kini sebatang kara. Muhammad makin merasa kehilangan. Ia
menjalani takdir sebagai seorang anak yatim-piatu. Terasa olehnya hidup
yang makin sunyi dan semakin sedih.
Baru beberapa hari yang lalu, ia mendengar dari ibunya cerita keluhan duka kehilangan ayahandanya semasa ia dalam kandungan.
Kini,
ia melihat sendiri di hadapannya, ibunya pergi untuk tidak kembali
lagi, sebagaimana ayahnya dulu. Muhammad yang masih kecil itu kini
memikul beban hidup yang berat, sebagai seorang yatim-piatu.
Ketika
tiba di Mekah, Abdul Muthalib menyambut kedatangan cucunya itu dengan
rasa iba yang dalam. Kecintaan Abdul Muthalib pun semakin bertambah
kepada Muhammad.
Rasa duka Muhammad mungkin agak ringan apabila kakeknya, Abdul Muthalib, dapat hidup lebih lama lagi. Namun, Allah سبحانه و تعال
sudah menentukan lain.
Pada
usia 80 tahun, sang kakek pun meninggal dunia. Saat itu, Muhammad
berusia delapan tahun. Ia mengiringi jenazah kakeknya ke kubur sambil
berlinangan air mata.
Kenangan
sedih sebagai anak yatim-piatu membekas begitu dalam pada diri
Rasulullah, sehingga di dalam Al Quran pun disebutkan ketika Allah
mengingatkan Rasulullah ﷺ akan nikmat yang dianugerahkan kepadanya di
tengah kesedihan itu,
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?
Surah Ad-Duha (93:6)
وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
Surah Ad-Duha (93:7)
*Keluarga Umayyah*
Kematian
Abdul Muthalib merupakan pukulan yang berat bagi keluarga Hasyim. Tidak
ada anak-anak Abdul Muthalib yang memiliki keteguhan hati, kewibawaan,
pandangan tajam, terhormat, dan berpengaruh di kalangan Arab seperti
dirinya.
Kemudian
keluarga Umayyah tampil ke depan mengambil tampuk pimpinan yang memang
sejak dulu mereka idam-idamkan, tanpa menghiraukan ancaman yang datang
dari keluarga Hasyim.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد
*Diasuh Abu Thalib*
Sebelum
wafat, Abdul Muthalib menunjuk salah seorang anaknya untuk mengasuh
Muhammad. Ia tidak menunjuk Abbas yang kaya, namun agak kikir. Ia juga
tidak menunjuk Harist, putranya yang tertua karena Harist adalah orang
yang tidak mampu.
Abdul Muthalib menunjuk Abu
Thalib untuk mengasuh Muhammad karena sekalipun miskin, Abu Thalib
memiliki perasaan yang halus dan paling terhormat di kalangan Quraisy.
Abu
Thalib juga amat menyayangi kemenakannya itu. Budi pekerti Muhammad
yang luhur, cerdas, suka berbakti, dan baik hati, sangat menyenangkan
Abu Thalib. Ia bahkan lebih mendahulukan kepentingan Muhammad daripada
anak-anaknya sendiri.
Begitu
pun sebaliknya, Muhammad amat mencintai pamannya. Ia tahu pamannya
memiliki banyak anak kecil dan hidup dalam kemiskinan. Namun demikian,
pamannya tidak pernah berhutang kepada orang lain. Abu Thalib lebih suka
bekerja keras memeras keringat untuk menafkahi keluarganya. Karena
itulah, tanpa ragu, Muhammad ikut bekerja seperti anak-anak Abu Thalib
yang lain. Ia ikut membantu pekerjaan keluarga Abu Thalib,
menggembalakan kambing, dan mencari rumput.
Abu
Thalib merasa bahwa Muhammad kelak akan menjadi orang yang bersih
hatinya dan dijauhkan dari dosa. Ia yakin, jika mengajak Muhammad
berdoa, Tuhan akan mengabulkan permohonannya. Seperti yang dilakukannya
ketika orang-orang Quraisy berseru "Wahai Abu Thalib, lembah sedang
kekeringan dan kemiskinan melanda. Marilah berdoa meminta hujan".
Maka,
Abu Thalib keluar bersama Muhammad. Ia menempelkan punggung Muhammad ke
dinding Ka'bah dan berdoa. Kemudian, mendung pun datang dari segala
penjuru, lalu menurunkan hujan yang sangat deras hingga tanah di
lembah-lembah dan di ladang menjadi gembur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar