Bagian ke 6 Pasukan Gajah ( Abrahah )
Saat Abdul Muthalib memimpin Mekah, ada sebuah peristiwa dahsyat. Kejadian ini bermula dari Yaman, sebuah negeri yang terletak jauh di sebelah selatan Mekah. Saat itu, Yaman diperintah oleh seorang penguasa bernama Abrahah Al Asyram.
Saat Abdul Muthalib memimpin Mekah, ada sebuah peristiwa dahsyat. Kejadian ini bermula dari Yaman, sebuah negeri yang terletak jauh di sebelah selatan Mekah. Saat itu, Yaman diperintah oleh seorang penguasa bernama Abrahah Al Asyram.
"Aku tidak habis pikir, mengapa setiap tahun seluruh bangsa Arab datang ke tanah Mekah?" seru Abrahah kepada para menterinya.
"Paduka
tahu, di sana ada sebuah bangunan bernama Ka'bah. Bangunan tua itu
begitu disucikan oleh penduduk Jazirah Arab sehingga mereka tidak dapat
berpaling darinya. Ke sanalah mereka pergi beribadah menyembah para dewa
sepanjang tahun," jawab salah seorang menteri.
"Apa
istimewanya bangunan tua yang terbuat dari batu kasar itu? Aku ingin
negeri kita, Yaman, mempunyai sebuah rumah suci yang akan membuat
bangunan tua di Mekah itu menjadi tidak berarti lagi dan dilupakan
orang!"
"Namun, apa mungkin kita bisa membuat rumah suci baru yang bisa menandingi Ka'bah?"
"Mengapa
tidak? Buat sebuah gereja yang sangat indah! Hiasi dengan perlengkapan
paling mewah yang kita miliki! Gerbang emas, jendela perak, lantai
pualam yang berkilau!
Semuanya! Kerahkan seluruh ahli bangunan! Aku ingin gereja itu selesai dalam waktu singkat!"
Tidak
lama kemudian, berdirilah sebuah gereja seindah yang diinginkan
Abrahah. Sang Penguasa Yaman itu mengunjunginya dengan rasa puas.
"Lihat, tidak lama lagi, seluruh orang Arab akan datang ke sini!"
kata Abrahah kepada bawahannya,
"bahkan orang orang Mekah akan melupakan rumah tua mereka begitu melihat bangunan seindah ini!"
*Bendungan Ma'rib*
Penduduk
asli Yaman adalah kaum Saba. Sebelum datangnya Islam, negeri Yaman
telah terkenal dengan kemajuan teknologi bangunannya. Salah satu
bangunan yang amat terkenal adalah Bendungan Raksasa Ma'rib. Ketika
bangunan ini jebol, banjir besar melanda daerah sekitarnya sehingga para
penduduk terpaksa pindah ke negeri lain.
*Penyerbuan*
Ternyata,
apa yang diharapkan Abrahah tidak terjadi. Orang-orang Arab sudah
sangat mencintai rumah purba Ka'bah sehingga mereka tidak dapat
berpaling ke rumah suci yang lain, betapa pun indahnya bangunan itu
dibuat. Orang-orang Arab merasa ziarah mereka tidak sah jika tidak
mengunjungi Ka'bah. Bahkan, penduduk Yaman sendiri tidak mengindahkan
rumah suci baru itu. Seperti biasa, mereka tetap berbondong-bondong
berziarah ke Mekah.
"Tidak ada jalan lain!" geram Abrahah.
"Gerakkan
pasukan gajah kita! Serbu dan hancurkan Ka'bah! Aku sendiri yang akan
memimpin! Jika bangunan tua itu hancur dan rata dengan tanah, orang
orang Arab tidak akan punya pilihan lain selain datang ke tempat kita!"
Sang
Penguasa Yaman memang ditakuti orang karena pasukan gajah yang
dimilikinya. Abrahah sendiri naik di atas gajah yang paling besar dan
kuat.
"Maju!" perintahnya.
Terompet pun membahana dan bumi seolah-olah pecah oleh gemuruh pasukan yang maju ke medan perang.
Mendengar
keberangkatan pasukan ini untuk menghancurkan Ka'bah, penduduk Jazirah
Arab terkejut. Walaupun tahu pasukan Abrahah begitu kuat, jiwa
kepahlawanan orang-orang Arab menjulang tinggi di hadapan musuh.
Dzu
Nafar, seorang bangsawan Arab, mengerahkan masyarakatnya untuk menahan
gerak maju Abrahah. Akan tetapi, ia dikalahkan dan ditawan.
Nufail
bin Habib Al Khath'ami memimpin pasukan Kabilah Syahran dan Nahis.
Namun, ia juga dikalahkan dan dijadikan penunjuk jalan pasukan Abrahah.
*Al Qullayus*
Al
Qullayus adalah nama gereja yang dibangun Abrahah agar orang tidak lagi
pergi ziarah ke Mekah, tetapi ke gereja ini. Mengetahui maksud Abrahah
ini, bangsa Arab marah karena kecintaan mereka pada Ka'bah sudah
mendarah daging.
Sementara
itu, seseorang dari suku Kinani malah pergi memasuki Al Qullayus dan
membuat kerusakan di dalamnya. Peristiwa inilah yang memicu Abrahah
untuk menghancurkan Ka'bah.
*Sikap Penduduk Mekah*
"Kita lawan mereka, Abdul Muthalib! Berikan peringatan kepada setiap orang untuk bertempur!"
Orang-orang
Quraisy di Mekah panik. Mereka meminta pendapat Abdul Muthalib untuk
bertempur. Abdul Muthalib tahu, sekeras apa pun mereka melawan, semuanya
akan sia-sia. Pasukan Mekah akan ditaklukkan. Karena itu, ia menjawab
dengan bijak,
"Tidak,
kita tidak akan mampu. Seorang utusan Abrahah telah tiba dan
menyampaikan keterangan bahwa Abrahah tidak akan memerangi kita. Abrahah
hanya ingin menghancurkan Ka'bah. Kita akan selamat jika tidak
menghalanginya. Aku sarankan semua orang pergi mengungsi ke
gunung-gunung di sekeliling kota."
Abdul Muthalib kemudian mendatangi markas Abrahah bersama beberapa orang pemuka Mekah.
"Kembalikan unta-unta kami yang dirampas pasukanmu," kata Abdul Muthalib kepada Abrahah.
"Akan kukembalikan unta-unta itu! Apakah ada hal lain yang engkau minta?" tanya Abrahah.
"Urungkan niatmu untuk menghancurkan Ka'bah. Jika engkau mau, kami akan berikan sepertiga harta dari daerah Tihama yang subur."
Abrahah menggeleng, "Tidak."
"Kalau begitu, kami serahkan pengamanan Ka'bah kepada Tuhan pemilik Ka'bah!" jawab Abdul Muthalib, lalu dia pergi.
Kini
kota Mekah kosong. Penduduknya telah mengungsi. Jalan lebar terbuka
bagi Abrahah untuk menghancurkan Ka'bah yang letaknya sudah di depan
mata.
Tidak ada yang mampu menghalangi kekuatan sebesar itu
Catatan
*Abrahah Al Asyram*
Abrahah Al Asyram bukanlah penduduk asli Yaman. Ia datang dari negeri Habasyah di Afrika, kemudian menduduki Yaman.
70.000
pasukan Habasyah yang dipimpin Aryath berhasil mengalahkan Yaman. Akan
tetapi, Aryath kemudian dibunuh oleh Abrahah. Sejak itulah Abrahah
memerintah Yaman.
*Kehancuran Abrahah*
Allåhlah
yang melindungi rumah suci-Nya. Ketika pasukan Abrahah bergerak
mendekat, gajah Abrahah berhenti. Sekeras apa pun Abrahah memukulinya,
gajah itu tetap duduk tenang, bahkan akhirnya berusaha berjalan lagi ke
arah Yaman.
"Maju! Maju! Apa yang terjadi padamu?" bentak Abrahah pada tunggangannya.
"Dalam
berbagai medan pertempuran, belum pernah kamu mengecewakan aku seperti
ini! Kamu bahkan tampak ketakutan! Ada apa sebenarnya?"
"Paduka! Ada yang datang dari arah laut!" teriak seorang prajurit sambil menunjuk-nunjuk panik.
Saat
itulah, dari arah laut, Allah mengirim kawanan burung yang kepakan
sayapnya menutupi sinar matahari seperti iringan awan mendung yang
bergerak cepat. Burung-burung itu menjatuhkan batu-batu menyala ke arah
pasukan gajah. Dengan panik setiap orang berusaha menyelamatkan diri,
tetapi sia-sia. Semua orang, termasuk Abrahah, mati.
Peristiwa ini Allah abadikan dalam *surat Al Fil* :
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
Surah Al-Fil (105:1)
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia?
Surah Al-Fil (105:2)
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ
dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,
Surah Al-Fil (105:3)
تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ
yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
Surah Al-Fil (105:4)
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
Surah Al-Fil (105:5)
*Wabah Penyakit*
Sebagian
ahli tafsir berpendapat bahwa yang dibawa burung itu adalah kuman kuman
wabah penyakit cacar. Dalam beberapa hari saja seluruh pasukan mati
dengan tubuh rusak seperti daun dimakan ulat.
Abrahah berhasil kembali ke Yaman, tetapi tidak lama setelah itu ia pun mati seperti pasukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar