Bagian ke 12 ( Khadijah Wanita Suci )
Namanya Khadijah binti Khuwalid. Sosoknya cantik dan anggun. Setelah ayah dan ibunya meninggal, saudara-saudara Khadijah saling membagi harta kekayaan peninggalan orangtuanya. Namun, Khadijah sadar bahwa kekayaan dapat membuat orang hidup menganggur dan berfoya-foya.
Namanya Khadijah binti Khuwalid. Sosoknya cantik dan anggun. Setelah ayah dan ibunya meninggal, saudara-saudara Khadijah saling membagi harta kekayaan peninggalan orangtuanya. Namun, Khadijah sadar bahwa kekayaan dapat membuat orang hidup menganggur dan berfoya-foya.
Dia dikaruniai kecerdasan yang luar
biasa dan kekuatan sikap untuk mengatasi godaan harta. Maka dari itu,
Khadijah pun memutuskan untuk membangun kekayaannya sendiri berbekal
warisan orangtuanya.
Tidak lama kemudian, Khadijah
telah membuktikan bahwa kalau pun tidak mendapat harta warisan, dia
mampu mendapatkan kekayaan itu dari hasil jerih payahnya sendiri.
Dengan
harta yang diperolehnya, Khadijah membantu orang-orang miskin, janda,
anak-anak yatim, dan orang-orang cacat. Jika ada seorang gadis yang
tidak mampu, Khadijah menikahkan dan memberi mas kawinnya. Khadijah
lembut dan ramah. Walau menjadi pemimpin tertinggi dalam menjalankan
bisnis keluarga sepeninggal Ayahnya, dia juga mau menerima saran-saran
orang lain. Khadijah tidak menyukai adanya jarak hubungan antara atasan
dan bawahan. Dia menganggap bawahan sebagai rekan kerja yang pantas
dihormati.
Khadijah
sendiri selalu tinggal di rumah. Karena itu, biasanya dia minta bantuan
seorang agen, jika sebuah kafilah sedang dipersiapkan untuk pergi ke
luar negeri. Orang yang dimintai bantuan itu bertanggungjawab membawa
barang-barang dagangannya untuk dijual ke pasar-pasar asing. Khadijah
sangat teliti memilih seorang agen. Dia juga sangat lihai merencanakan
waktu keberangkatan kafilah dan tempat tujuannya sebab barang akan
terjual dengan cepat pada waktu dan tempat yang tepat.
Begitu
suksesnya Khadijah sebagai seorang saudagar, sampai-sampai jika sebuah
kafilah Quraisy berangkat dari Mekah, bisa dipastikan lebih dari
separuhnya adalah harta perdagangan milik Khadijah. Dia seperti
mempunyai sentuhan emas. Diibaratkan jika dia menyentuh debu, debu ini
akan berubah menjadi "emas". Karena itu penduduk Mekah menjulukinya
"Ratu Quraisy" atau "Ratu Mekah".
Kalau
hanya kekayaan yang menjadi ukuran, tentu Allah tidak akan menjadikan
Khadijah *(kelak)* sebagai istri seorang rosul. Pasti ada sifat lain
yang lebih utama yang membuatnya sepadan dengan Muhammad
Catatan
Sebuah
kafilah dagang pada masa itu ibarat kampung bergerak. Hewan beban
berjumlah 1000 sampai 2500 ekor dan diiringi seratus sampai tiga ratus
orang. Kafilah perlu organisasi yang baik, biaya besar, dan keberanian
yang cukup. Jika ada perampok, seluruh anggota kafilah harus berani
menyabung nyawa untuk mempertahankan harta yang dibawanya.
*Wanita Suci*
Khadijah
mempunyai seorang paman bernama Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah
sanak saudara Khadijah yang paling tua. Dia Sangat mengutuk kebiasaan
bangsa Arab Jahiliah yang menyembah berhala sehingga menyimpang jauh
dari apa yang diajarkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Waraqah sendiri
adalah hamba Allah yang setia dan lurus. Dia tidak pernah meminum
minuman keras dan berjudi. Dia murah hati terhadap orang-orang miskin
yang membutuhkan pertolongannya.
Khadijah sangat terpengaruh pemikiran Waraqah bin Naufal. Khadijah juga sangat membenci berhala dan patung-patung sesembahan.
Bersama beberapa keluarganya, Khadijah adalah pengikut setia ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Jika
mendengar ada seorang anak perempuan akan dikubur hidup-hidup. Waraqah
dan Khadijah akan segera menemui sang Ayah dan mencegah perbuatannya.
Jika kemiskinan yang menjadi alasan rencana pembunuhan itu, Khadijah dan
Waraqah akan membeli anak itu dan membesarkannya seperti anak kandung
sendiri.
Sering kali
beberapa waktu setelah itu, ayah si anak menyesali perbuatannya dan
mengambil putrinya kembali. Waraqah dan Khadijah akan memastikan dulu
bahwa anak itu akan diasuh dengan benar dan disayangi, setelah itu
barulah dia mengizinkan sang Ayah membawa pulang anaknya kembali.
Budi
pekerti Khadijah yang agung, santun, lembut dan penuh keteladanan ini
membuat semua orang menjulukinya juga sebagai *Khadijah At Thahirah*
atau Khadijah yang suci.
Pertama kalinya dalam
bangsa Arab seorang wanita dijuluki demikian, padahal orang Arab pada
masa jahiliah itu sangat mengagungkan laki-laki dan merendahkan wanita.
Catatan
Selain Khadijah, ada pula beberapa saudagar wanita terkenal.
Di antaranya adalah:
~ Hindun, istri Abu Sofyan dan
~ Asma binti Mukharribah, ibu Abu Jahl.
Para
Saudagar wanita ini biasanya juga menjual keperluan wanita, seperti
pakaian, parfum, perhiasan emas dan perak, permata dan obat-obatan.
Barang-barang ini tidak memerlukan banyak ruang, ringan dan laku keras
di mana-mana.
*Pembicaraan Abu Thalib*
Pada
musim semi tahun 595 Masehi, para pedagang Mekah kembali mulai menyusun
kafilah perdagangan musim panas mereka, untuk membawa barang dagangan
ke Syria. Khadijah juga sedang mempersiapkan barang dagangannya, tetapi
ia belum menemukan seseorang untuk menjadi pemimpin kafilahnya. Beberapa
nama diusulkan orang, namun, tidak satu pun yang berkenan di hatinya.
Mendengar
itu, Abu Thalib mendatangi Khadijah dan menawarkan kepadanya Muhammad,
keponakannya yang baru berusia 25 tahun, untuk menjadi agen Khadijah.
Abu Thalib tahu bahwa Muhammad belum cukup berpengalaman, tetapi ia
sangat yakin bahwa Muhammad lebih dari sekadar mampu.
Sebagaimana
penduduk Mekah yang lain, Khadijah pun telah mendengar nama Muhammad.
Satu hal yang Khadijah yakin adalah kejujuran Muhammad. Bukankah orang
Mekah menjulukinya "Al Amin" atau "Orang yang bisa dipercaya". Maka,
Khadijah menyetujui tawaran Abu Thalib. Bahkan ia hendak memberi imbalan
dua kali lipat kepada Muhammad dari yang biasa diberikan kepada orang
lain. Oleh karena itu, Abu Thalib pulang dengan gembira.
Segera
saja Abu Thalib dan Muhammad menemui Khadijah yang kemudian menerangkan
tentang seluk beluk perdagangan. Otak Muhammad yang cerdas bekerja
dengan tangkas. Ia segera memahami semuanya. Tidak satu penjelasan pun
yang ia minta untuk diterangkan ulang.
Maka,
kafilah pun disiapkan dengan suara riuh rendah. Khadijah menyertakan
seorang pembantu laki-lakinya yang terpercaya, Maisarah, untuk
mendampingi Muhammad di perjalanan. Diantar Abu Thalib dan
paman-pamannya yang lain, Muhammad datang pada hari yang telah
ditentukan. Mereka disambut seorang paman Khadijah yang sedang menanti
mereka dengan surat-surat perdagangan.
Pemimpin
kafilah membunyikan tanda dan semuanya segera berangkat. Pada musim
panas, kafilah Mekah berangkat menjelang senja dan terus berjalan pada
malam hari. Mereka beristirahat pada siang hari karena perjalanan siang
akan sangat melelahkan semua orang.
Maka, berangkatlah Muhammad menempuh jalur yang pernah ditempuh bersama pamannya 13 tahun yang lalu.
*Imbalan untuk Muhammad*
Imbalan
yang diberikan Khadijah untuk seorang agen adalah dua ekor unta. Akan
tetapi, Abu Thalib minta empat ekor unta. Maka, Khadijah pun menjawab,
"Kalau permintaan itu bagi orang yang jauh dan tidak kusukai saja akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai."
*Berdagang ke Syam*
Dalam
perjalanan, Muhammad mengenali bahwa Maisarah adalah teman yang baik.
Dengan senang hati, Maisarah menunjukkan dan menceritakan sejarah
berbagai tempat menarik yang mereka lewati. Muhammad juga menemui bahwa
anggota kafilah yang lain sangat ramah dan akrab terhadapnya.
Setelah satu bulan berjalan, tibalah mereka di Syria.
Setelah
beristirahat beberapa hari, mulailah para pedagang menuju ke pasar.
Walaupun ini adalah pengalaman pertama. Muhammad sama sekali tidak
bingung dengan tugasnya. Maisarah tercengang melihat kelihaian Muhammad
mengambil keputusan, pikirannya yang tajam, serta kejujurannya. Semua
barang yang mereka bawa laku terjual dengan jumlah keuntungan yang belum
pernah didapatkan Khadijah sebelum itu.
Setelah itu, Muhammad membeli barang-barang berkualitas yang akan dibawa pulang ke Mekah untuk dijual dengan harga tinggi.
Di
Syria, setiap orang yang berjumpa dengan Muhammad pasti sangat terkesan
olehnya. Penampilan Muhammad sangat memesona, ramah, dan sangat besar
perhatiannya pada setiap orang. Di tengah-tengah kesibukan itu, Maisarah
melihat bahwa Muhammad selalu memanfaatkan setiap waktu senggang untuk
menyendiri dan berpikir. Ini benar-benar tidak lazim bagi Maisarah. Ia
tidak menyadari bahwa tuan mudanya ini memang sangat terbiasa meluangkan
waktu untuk memikirkan nasib umat manusia.
Muhammad
juga amat heran melihat perpecahan berbagai kelompok Nasrani di Syria.
Setiap masing-masing dari mereka memiliki jalan dan pendapat sendiri
padahal seharusnya mereka bergabung dalam satu kelompok. Manakah yang
paling benar dari semuanya itu. Pikiran-pikiran seperti ini membuat mata
Muhammad selalu terbuka pada saat orang-orang lain terlelap tidur.
Akhirnya,
waktu untuk pulang pun tiba. Oleh-oleh untuk handai tolan pun dibeli
dan semua barang dikemas. Waktu pulang adalah waktu yang paling
menggembirakan karena mereka akan berjumpa lagi dengan orang-orang
tercinta di kampung halaman. Mereka tidak sabar lagi mendengar tawa ria
anak-anak mereka saat kembali nanti dan mereka sadar jika waktu itu
tiba, tidak akan kuat lagi mereka menahan air mata.
*Hari Jum'at*
Hari Jum'at pada zaman jahiliyah adalah hari bersuka ria di seluruh jazirah. Semua orang sibuk di pasar.
Dalam
sebuah hadits disebutkan bahwa, pernah terjadi, khutbah Jum'at
Rasulullah hampir terganggu, karena saat itu datang kafilah membawa
barang dagangan.
Pada hari Jum'at, semangat berdagang mengaliri darah semua orang pada saat itu.
*Perasaan Khadijah*
Setelah
beberapa bulan, kafilah Mekah pun datang kembali. Di tempat perhentian
Marr Al Zahran, sehari perjalanan dari Mekah, para agen biasanya
mendahului datang ke Mekah untuk memberi laporan perdagangan. Muhammad
pun demikian. Ia lebih dulu tiba di Mekah. Namun, sebelum bertemu
Khadijah, ia berthåwaf dulu tujuh keliling mengelilingi Ka'bah.
Dari
atas balkonnya yang megah, Khadijah bergegas datang menyambut dan
Muhammad pun melaporkan hasil penjualan, barang yang dibeli, serta
berbagai pengalaman kecil dalam perjalanan. Saat itu, Khadijah sudah
sangat terkesan dengan hasil yang diperoleh Muhammad, tetapi itu belum
seberapa. Setelah Muhammad pulang, Maisaråh menceritakan sendiri
kesan-kesannya terhadap Muhammad.
"Sungguh,
belum pernah aku melihat pemuda yang demikian sempurna memandang masa
depan. Keputusan-keputusannya selalu tepat dan perkiraannya tidak pernah
salah. Ia juga sangat jujur dan sopan," demikian sebagian kisah
Maisaråh.
Khadijah
betul-betul sangat terkesan dengan agen barunya itu. Waraqah bin Naufal
pun datang dan mendengar sendiri kisah Maisarah tentang Muhammad. Ada
hal yang aneh pada diri Maisarah. Biasanya, ia sangat menekankan
laporannya pada masalah-masalah bisnis. Akan tetapi, kini persoalan
dagang seolah-olah menjadi hal kecil. Yang dibicarakan Maisarah kali ini
hanya tentang Muhammad, Muhammad, dan Muhammad. Padahal, keuntungan
yang mereka dapat kali ini benar-benar luar biasa. Jika dikatakan bahwa
Khadijah memiliki "Sentuhan Emas", tepatlah apabila Muhammad disebut
memiliki "Sentuhan penuh berkah".
Ketika
Waraqah telah mendengar semua itu, ia tenggelam dalam pemikiran yang
sungguh-sungguh. Setelah cukup lama berdiam diri, ia berkata kepada
Khadijah,
"Mendengar
darimu dan dari Maisarah mengenai Muhammad dan juga dari apa yang
kulihat sendiri, aku berpendapat bahwa ia memiliki semua sifat dan
kemampuan sebagai seorang utusan Allah. Mungkin dialah yang ditakdirkan
untuk menjadi salah seorang di antara para rasul pada masa yang akan
datang."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar