Bagian ke 7 Kelahiran Muhammad صلى الله عليه وسلم
Pada
hari Senin pagi tanggal 12 Rabiul Awwal pada tahun yang sama dengan
penyerbuan Abrahah (tahun gajah), Aminah melahirkan seorang bayi
laki-laki. Saat itu bertepatan dengan bulan Agustus tahun 570 Masehi.
(Sebagian pendapat mengatakan bahwa Aminah melahirkan pada tanggal 20
atau 21 April tahun 571 Masehi).
Aminah
mengutus seseorang sambil berkata, "Pergilah kepada Abdul Muthalib dan
katakan, 'Sesungguhnya telah lahir bayi untukmu. Oleh karena itu, datang
dan lihatlah '."
Abdul Muthalib bergegas datang. Ketika mengambil bayi itu dari pelukan Aminah, dadanya bergemuruh dipenuhi rasa sayang.
"Kehadiranmu mengingatkan aku kepada ayahmu. Sungguh, di hatiku kini dirimu hadir sebagai pengganti Abdullah."
Dengan
penuh rasa syukur, orangtua itu menggendong cucunya berthawaf,
mengelilingi Ka'bah. Kali ini tidak kepada berhala, tetapi kepada Allah.
Abdul Muthalib berdoa dan bersyukur.
"Aku memberimu nama Muhammad," kata Abdul Muthalib.
*Muhammad* berarti *terpuji*, sebuah nama yang tidak umum di kalangan masyarakat Arab, tetapi cukup dikenal.
Kemudian, ia memerintahkan orang untuk menyembelih unta dan mengundang makan masyarakat Quraisy.
"Siapa nama putra Abdullah, cucumu itu?" tanya seseorang kepada Abdul Muthalib.
"Muhammad."
"Mengapa tidak engkau beri nama dengan nama nenek moyang kita?"
"Kuinginkan ia menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi," jawab Abdul Muthalib.
*Cahaya Aminah*
Ketika
Aminah mengandung Nabi Muhammad, ia melihat seberkas sinar keluar dari
perutnya dan dengan sinar tersebut ia melihat istana-istana Busra di
Syam.
Saat itu di
kalangan bangsawan Arab sudah berlaku tradisi yang baik, yakni mereka
mencari wanita-wanita desa yang bisa menyusui anak-anaknya.
Anak-anak
disusukan di pedalaman agar terhindar dari penyakit, memiliki tubuh
yang kuat dan agar dapat belajar bahasa Arab yang murni di daerah
pedesaan.
Tidak lama
kemudian ke Mekah datanglah serombongan wanita dari kabilah bani Sa'ad
mencari bayi untuk disusui. Di antara mereka ada seorang ibu bernama
Halimah binti Abu Dzu'aib.
"Suamiku,"
Panggil Halimah "tahun ini sungguh tahun kering tak ada tersisa sedikit
pun hasil panen di kampung halaman kita. Lihat unta tua kita tidak lagi
menghasilkan susu sehingga anak-anak menangis pada malam hari karena
lapar."
"Semoga kita
mendapat bayi seorang bangsawan kaya yang dapat memberi kita upah yang
layak untuk menanggulangi kesengsaraan ini," jawab sang suami.
Namun
harapan mereka tak terkabul, hampir semua bayi bangsawan kaya telah
diambil oleh teman-teman serombongan mereka. Hanya ada satu bayi dalam
gendongan ibunya yang mereka temui.
"Namanya
Muhammad" kata Aminah kepada pasangan tersebut "ia anak yatim tinggal
aku dan kakeknya yang merawatnya." Halimah dan suaminya, Al-Harits bin
Abdul Uzza saling berpandangan.
Mereka
enggan menerima anak yatim karena tidak ada Ayah yang dapat memberi
mereka upah yang layak. Pasangan tersebut menggeleng dan pergi mencari
bayi lain, Aminah memandangi bayi dalam dekapannya dengan sendu. Setiap
wanita Bani Saad yang mendapat tawaran untuk menyusui Muhammad, selalu
menolaknya karena anak yatim.
*Tsuwaibah*
Sebelum kedatangan para wanita Bani sa'ad, Muhammad disusui Tsuwaibah budak perempuan Abu Lahab.
Hanya beberapa hari Muhammad disusui oleh Tsuwaibah.
Akan tetapi, di kemudian hari, di sepanjang hidupnya Muhammad selalu memperlakukan Tsuwaibah dengan baik.
*Halimah*
Ketika
Halimah dan Harits kembali ke rombongan, mereka melihat semua kawan
mereka telah mendapatkan bayi untuk dibawa pulang dan disusui.
Melihat itu, Halimah berkata kepada suaminya,
"Demi
Allah, aku tak ingin mereka melihatku pulang tanpa membawa bayi. Demi
Allah, aku akan pergi kepada anak yatim itu dan mengambilnya."
"Tidak salah kalau engkau mau melakukannya. Semoga Allah memberi kita keberkahan melalui anak yatim tersebut."
Akhirnya
Halimah dan suaminya kembali menemui Aminah dan membawa Muhammad ke
dusun mereka. Aminah melepas bayinya itu dengan perasaan lega bercampur
sedih. Lega karena akhirnya ada yang mengasuh Muhammad, sedih karena
harus berpisah dengannya selama dua tahun ke depan.
"Pergilah, Nak. Ibu menunggumu di sini," bisik Aminah dengan pipi yang hangat dialiri air mata.
Tatkala menggendong Muhammad, Halimah keheranan, "Aku tidak merasa repot membawanya, seakan-akan tidak bertambah beban."
Kemudian, Halimah menyusui Muhammad.
"Lihat, bayi ini menyusu dengan lahap," kata Halimah kepada suaminya.
Setelah
menyusui Muhammad, Halimah menyusui bayinya sendiri. Bayi itu juga
menyusu dengan lahap. Setelah itu, Muhammad dan bayi Halimah tertidur
dengan lelap.
"Anak kita
tidur dengan lelap," bisik Halimah kepada suaminya, "padahal, sebelumnya
kita hampir tidak bisa tidur karena ia rewel terus sepanjang malam."
Malam itu, keduanya bertambah heran karena unta tua mereka ternyata kini menghasilkan susu.
"Engkau tahu, Halimah. Sebelum ini unta tua kita tidak menghasilkan susu setetes pun," gumam Harits.
Suami istri itu meminum air susu unta sampai kenyang.
"Malam
ini benar-benar malam yang indah, " kata Halimah kepada Harits, "bayi
kita tertidur lelap dan kita pun bisa beristirahat dengan perut
kenyang."
"Demi Allah, tahukah engkau Halimah, engkau telah mengambil anak yang penuh berkah."
"Demi Allah, aku pun berharap demikian."
*Kebanggaan Rasulullah*
Lingkungan
di Bani Sa'ad benar-benar sangat murni. Kelak Rasulullah pun dapat
berkata dengan bangga, "Aku adalah keturunan Arab yang paling tulen.
Sebab aku anak suku Quraisy yang menyusui di Bani Sa'ad bin Bakr."
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد
*Keberkahan*
Keberkahan yang dibawa Muhammad kecil tidak berhenti sampai di situ.
Ketika dalam perjalanan kembali ke dusun Bani Sa'ad, terjadi hal yang mengherankan.
"Suamiku, tidakkah engkau melihat hal yang aneh pada keledai tungganganku?" tanya Halimah.
"Saat
kita pergi, keledai ini berjalan pelan sekali," Harits menanggapi,
"tetapi, kini ia dapat berjalan cepat seolah tak kenal lelah. Padahal,
beban yang dibawanya cukup berat."
Keledai
itu berjalan cukup cepat sehingga bisa menyusul dan melewati rombongan
wanita Bani Sa'ad lainnya yang telah berjalan lebih dulu.
"Halimah
putri Abu Dhu'aibi!" panggil para wanita itu keheranan, "tunggulah
kami! Bukankah ini keledai yang engkau tunggangi saat kita pergi?"
"Demi Allah, begitulah," balas Halimah, "ini memang keledaiku yang dulu."
"Demi Allah, keledaimu itu kini bertambah perkasa!"
Ketika tiba di rumah, Halimah dan Harits tambah terkejut.
"Sepetak tanah kita!" bisik Halimah tak percaya.
"Sepetak
tanah kita ini jadi begitu hijau dan subur! Padahal, saat kita
berangkat, tak ada sepetak tanah pun yang lebih gersang dari ini!"
"Domba-domba
juga!" seru Harits, "domba domba kita jadi gemuk dan susunya penuh.
Kini kita dapat memerah dan meminum susu mereka setiap hari."
Begitulah
keberkahan yang mereka terima selama mengasuh Muhammad. Namun, dua
tahun pun berlalu, kini tiba saatnya mengembalikan Muhammad kepada
ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar