Bagian Ke 4 MENGGALI SUMUR ZAMZAM
*Sumber Air Mekah*
Abdul
Muthalib adalah pengurus air dan makanan bagi tamu-tamu yang datang ke
Mekah. Setelah ratusan tahun Sumur Zamzam tertimbun, air harus
didatangkan dari beberapa sumur yang terpencar-pencar di sekitar Mekah.
Saat
itu, Sumur Zamzam telah terkubur dan dilupakan orang selama ratusan
tahun. Namun, Abdul Muthalib tidak pernah lupa pada sejarah Mekah, bahwa
dulu pernah ada mata air yang menghidupi Mekah, mata air yang memancar
keluar oleh kaki Ismail.
"Aku harus menemukannya!" pikir Abdul Muthalib. "Aku
harus menemukan kembali Sumur Zamzam yang telah dilupakan orang! Apalagi
aku bertugas menyediakan air dan makanan bagi penduduk Mekah."
Pikiran seperti itu tidak pernah hilang dari benaknya, "Aku harus menemukannya! Aku harus menemukannya!"
Setelah
itu, Abdul Muthalib mengambil tembilang (alat untuk menggali bertangkai
panjang) dan memanggil putra satu-satunya, "Harits, temani ayah mencari
dan menggali kembali Sumur Zamzam!"
Harits
mengangguk. Kemudian, mereka mulai mencari di mana dulu letak Mata Air
Zamzam berada. Setelah beberapa kali mencoba menggali di beberapa
tempat, Sumur Zamzam tidak juga ditemukan.
"Ayah, mungkin Sumur Zamzam memang telah hilang," kata Harits.
"Tidak
Nak, Ayah yakin Sumur itu masih ada! Kita harus menemukannya!
Orang-orang Mekah akan hidup lebih baik jika Sumur Zamzam ada di tengah
kita!"
Dengan gigih keduanya pun terus mencari sumur Zam-Zam.
Orang-orang Quraisy, penduduk asli Mekah, melihat perbuatan mereka dengan heran.
"Mengapa
engkau masih terus menggali, Abdul Muthalib? Bukankah dulu nenek moyang
kita, Mudzaz bin Amr pernah menggalinya, tapi tidak berhasil?"
Abdul Muthalib menaruh tembilangnya dan duduk.
Ya, ratusan tahun yang lalu Mudzaz bin Amr mertua Nabi Ismail عليه ااسلام pernah mencoba menggali Zamzam tapi tidak berhasil.
Padahal, saat itu Mudzaz telah mempersembahkan sesaji berupa pedang dan pelana berpangkal emas agar Sumur Zamzam ditemukan.
*Menemukan Zamzam*
Malam
harinya, dengan tubuh lelah, Abdul Muthalib tertidur. Tiba-tiba, dalam
tidur, dia bermimpi mendengar suara yang bergema berulang-ulang,
"Temukan Sumur Zamzam itu, wahai Abdul Muthalib! Temukan Sumur Zamzam!
Temukan!"
Abdul Muthalib terbangun dengan keyakinan dan semangat baru. Esoknya, dia mengajak Harits menggali dan menggali lebih giat.
Rasa heran orang-orang Quraisy yang melihatnya berubah menjadi tawa.
"Kasihan Abdul Muthalib, mungkin dia sudah kehilangan akal sehatnya!" kata mereka satu sama lain.
Suatu saat, ketika mereka sedang menggali di antara berhala Isaf dan Na'ila, air membersit.
"Air! Harits! Lihat, ada air!" seru Abdul Muthalib saking kagetnya.
"Ayo kita gali terus, Ayah! Ayo gali terus!"
Ketika
mereka menggali lebih dalam, tampaklah pedang-pedang dan pelana emas
yang pernah ditaruh oleh Mudzaz bin Amr dahulu. Melihat penemuan itu,
orang-orang Quraisy datang berbondong-bondong.
"Abdul Muthalib, mari kita berbagi air dan harta emas itu!" pinta mereka.
"Tidak!
Tetapi, marilah kita mengadu nasib di antara aku dan kamu sekalian
dengan permainan _qidh_ (anak panah). Dua anak panah buat Ka'bah, dua
buat aku, dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu keluar, dia mendapat
bagian. Kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa."
Usul
ini disetujui. Juru qidh mengundinya di tengah-tengah berhala di depan
Ka'bah. Ternyata, anak panah Quraisy tidak ada yang keluar. Pemenangnya
adalah Abdul Muthalib dan Ka'bah. Oleh karena itu, Abdul Muthalib dapat
meneruskan tugasnya mengurus air dan keperluan para tamu Mekah setelah
Sumur Zamzam memancar kembali.
*Pedang dan Pelana Emas*
Abdul
Muthalib memasang pedang-pedang itu di pintu Ka'bah, sedangkan
pelana-pelana emas ditaruh di dalam rumah suci itu sebagai perhiasan.
*Bernadzar*
Mengingat beratnya tugas itu. Abdul Muthalib sangat ingin agar dia mempunyai banyak anak laki-laki yang dapat membantunya.
Abdul
Muthalib bernadzar, "Kalau saja aku mempunyai 10 anak laki-laki,
kemudian setelah semuanya dewasa, aku tidak memperoleh anak lagi seperti
ketika sedang menggali Sumur Zamzam, maka salah seorang diantara 10
anak itu akan kusembelih di Ka'bah sebagai kurban untuk Tuhan."
Ternyata
takdir memang menentukan demikian. Abdul Muthalib akhirnya mendapat 10
orang anak laki-laki. Setelah semua anak berangkat dewasa, ia tidak
memperoleh anak. Dipanggilnya kesepuluh orang anak itu, termasuk si
bungsu Abdullah yang amat disayangi dan dicintainya.
"Aku pernah bernadzar untuk menyembelih salah seorang di antara kalian jika Tuhan memberiku 10 orang anak laki-laki."
Kesepuluh
anaknya terdiam. Mereka memahami persoalan itu. Mereka juga melihat
kebingungan yang luar biasa di mata ayah mereka yang berkaca-kaca.
"Namun,
aku tidak bisa menentukan siapa di antara kalian yang harus kusembelih.
Oleh karena, aku berniat memanggil juru qidh untuk menentukannya."
Di
hadapan patung dewa tertinggi Ka'bah, juru qidh (Nanak panah) meminta
setiap anak menulis namanya masing-masing di atas qidh. Kemudian, ia
mengocok anak panah tersebut di hadapan berhala Hubal. Nama anak yang
keluar adalah Abdullah.
Melihat itu, serentak orang orang Quraisy datang dan melarangnya melakukan perbuatan itu.
"Batalkan keinginanmu, Abdul Muthalib! Mohon ampunlah kepada Hubal supaya kamu bisa membatalkan nadzarmu!"
Sanggupkah Abdul Muthalib menyembelih anak kesayangannya, apalagi tidak ada orang yang menyetujui niatnya itu?
Dengan mem"baja"kan hati, Abdul Muthalib menuntun
Abdullah menuju sebuah tempat di dekat sumur Zamzam yang terletak di
antara dua berhala Isaf dan Na'ila. Di tempat itulah biasanya orang
orang Mekah melakukan pengurbanan hewan untuk dewa-dewa mereka. Namun,
masyarakat semakin keras menghalangi Abdul Muthalib melakukan niatnya.
Akhirnya, kekerasan hatinya pun luluh.
"Baiklah, tetapi apa yang harus kulakukan agar berhala tetap berkenan kepadaku?"
"Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan harta kita, kita tebuslah," kata Mughirah bin Abdullah dari suku Makhzum.
Setelah diadakan perundingan, mereka sepakat menemui seorang dukun di Yatsrib.
"Berapa tebusan kalian?" tanya dukun wanita itu.
"Sepuluh ekor unta."
"Kembalilah
ke negeri kalian. Sediakan tebusan 10 ekor unta. Kemudian undi antara
unta dan anak itu. Jika yang keluar nama anakmu, tambahlah jumlah
untanya, kemudian undi lagi sampai nama unta yang keluar."
Mereka
pulang dengan lega dan segera mengundi dengan anak panah. Ternyata yang
keluar adalah nama Abdullah. Mereka menambahkan tebusan unta dan
mengundi lagi. Ternyata, lagi lagi nama Abdullah yang keluar.
Demikianlah, Abdul Muthalib menambah dan menambah terus jumlah unta.
Ketika jumlah unta sudah mencapai 100 ekor, barulah nama unta yang
keluar.
"Dewa sudah berkenan," seru orang orang.
"Tidak," bantah Abdul Muthalib. "Harus dilakukan sampai 3 kali."
Akhirnya,
setelah 3 kali dikocok, yang keluar adalah nama unta. 100 ekor unta itu
pun disembelih dan dibiarkan begitu saja tanpa disentuh manusia dan
hewan karena mereka beranggapan bahwa unta itu untuk dewa.
*Keturunan Dua Orang yang Disembelih*
Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda,
"Aku adalah anak dua orang yang disembelih."
Yang dimaksud oleh beliau adalah Nabi Ismail nenek moyangnya, dan Abdullah ayahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar