Bagian Ke 5 Pernikahan Abdullah
*Kembali ke Mekah*
*Kembali ke Mekah*
Abdullah bin Abdul Muthalib tidak jadi disembelih karena telah ditebus ayahnya dengan 100 ekor unta.
Abdullah
adalah pemuda yang berwajah tampan. Kegagahan parasnya banyak menarik
perhatian gadis-gadis Mekah. Apalagi setelah mereka tahu bahwa nyawa
Abdullah telah ditebus dengan 100 ekor unta, suatu jumlah yang luar
biasa yang tidak pernah dialami seorang pun sebelumnya. Walaupun banyak
gadis yang berusaha menggodanya, kesopanan Abdullah tetap terjaga.
*Gadis yang Meminang*
Setelah
penebusan Abdullah, Abdul Muthalib menggandeng tangan putranya menuju
rumah Wahb bin Abdul Manaf. Wahb mempunyai seorang putri bernama Aminah.
Abdul Muthalib sudah sepakat dengan Wahb untuk menikahkan putra-putri
mereka.
Namun, di tengah jalan, seorang gadis cantik menegur Abdullah, "Engkau akan pergi ke mana, wahai Abdullah?"
"Aku akan pergi bersama ayahku."
Tanpa
memedulikan Abdul Muthalib, gadis itu berkata, "Kulihat engkau memang
dituntun ayahmu, tak ubahnya seperti seekor unta yang akan disembelih.
Demi engkau, aku akan menerimamu jika engkau mau menikahi diriku
sekarang juga."
Abdullah terperangah. Ia menatap gadis itu dengan gugup.
"Siapakah
gadis ini? Pikir Abdullah, "dilihat dari pakaiannya yang dipenuhi
perhiasan mahal, ia pasti seorang gadis bangsawan. Matanya yang hitam
memancarkan sinar yang teduh seperti yang biasa dimiliki gadis-gadis
berperangai lemah lembut dan penuh kasih sayang. Apa yang harus
kukatakan kepadanya?"
Ketika
Abdullah menoleh kepada ayahnya, dilihatnya Abdul Muthalib memberi
isyarat agar Abdullah terus melangkah dan tidak menggubris sang gadis .
"Aku bersama ayahku." Aku tak kuasa menolak kehendaknya dan berpisah dengannya.
Abdullah kembali berjalan bersama ayahnya. Hatinya dipenuhi rasa iba dan simpati kepada gadis yang ditinggalkannya.
Hari itu juga, Abdul Muthalib datang ke rumah Wahb bin Abdul Manaf. Mereka sepakat menjodohkan Abdullah dengan Aminah.
Keesokan
harinya, Abdullah bertemu lagi dengan gadis yang kemarin. Abdullah
menyapanya, "Mengapa engkau tidak menyapaku seperti kemarin?"
Gadis
itu menjawab dengan ketus, "Sinar berseri-seri yang kemarin kulihat
pada wajahmu sudah tidak ada lagi. Karena itu, sekarang aku sudah tidak
membutuhkanmu!"
*Sinar Kenabian*
Sinar
berseri-seri yang dilihat sang gadis pada wajah Abdullah menurut
sebagian ahli sejarah adalah sinar kenabian yang akan diturunkan
Abdullah kepada putranya.
*Pernikahan Abdullah dengan Aminah*
Allah
sudah menentukan bahwa jodoh yang paling tepat untuk Abdullah adalah
Aminah binti Wahb. Aminah adalah gadis yang paling baik keturunan dan
kedudukannya di kalangan suku Quraisy.
Musim
semi tahun 570 Masehi pun tiba. Batang-batang gandum di Yaman tumbuh
menjulang tinggi. Dedaunan kurma di kota Tha'if kembali bersemi.
Sementara itu, padang-padang rumput dipenuhi harum bunga-bunga yang
tumbuh di kebun-kebun.
Bagi
penduduk Mekah, musim semi adalah tanda kebebasan dan dimulainya lagi
perdagangan musim panas ke Syria. Abdullah pun berniat pergi musim ini.
"Kanda,
sebenarnya hatiku sangat berat melepas kepergianmu. Entah mengapa
hatiku diliputi kekhawatiran dan kegelisahan. Aku bahkan berharap dapat
menemukan suatu alasan untuk menahan kepergianmu," keluh Aminah kepada
suaminya.
Abdullah
tersenyum menentramkan, "Hatiku pun terasa tertinggal di sini, Dinda.
Aku tahu begitu besar rasa sayangmu kepadaku sehingga engkau berharap
dapat terus berada di sisiku."
"Bukan cuma itu, damai rasanya berada di sampingmu, Kanda."
Abdullah
mengangguk, "Tetapi Dinda, kini di dalam perutmu ada bayi kita. Kau
tahu aku adalah pemuda tak berada. Saat ini, kita hanya mempunyai lima
ekor kambing perah. Selain itu, tak ada lagi kekayaan yang dapat
menghidupi kita berdua selain sedikit kurma dan daging kering. Karena
itu, inilah saatnya bagiku untuk pergi berniaga dan menambah penghasilan
kita."
Aminah terpaksa
mengangguk menerima kenyataan itu. Ia memandang kepergian Abdullah
dengan sendu, seolah itu adalah detik-detik terakhir ia dapat melihat
wajah suaminya.
*Hamzah bin Abdul Muthalib*
Pada
hari pernikahan Abdullah dengan Aminah, Abdul Muthalib pun menikahi
sepupunya yang bernama Hala. Dari perkawinan ini, lahirlah Hamzah, paman
Rasulullah yang seusia dengan beliau.
*Abdullah Meninggal*
Bersama
kafilah dagang, Abdullah tiba di Gaza. Kemudian, dalam perjalanan
pulang, ia singgah di Yatsrib. Di sana, ia tinggal bersama
saudara-saudara ibunya. Namun, ketika kawan-kawannya dari Mekah hendak
mengajaknya pulang, Abdullah jatuh sakit.
"Rasanya,
aku takkan kuat menempuh perjalanan pulang," kata Abdullah kepada
kawan-kawannya. "Kalian berangkatlah dan sampaikan pesan kepada ayahku
bahwa aku jatuh sakit."
Kawan-kawannya mengangguk, "Akan kami sampaikan pesanmu. Baik-baiklah engkau di sini."
Kafilah Mekah pun beranjak pulang. Ketika tiba di rumah, mereka menyampaikan pesan Abdullah kepada Abdul Muthalib.
"Harits!"
panggil Abdul Muthalib kepada putra sulungnya. "Pergilah ke Yatsrib.
Lihatlah keadaan adikmu. Jika sudah sembuh, jemputlah ia pulang."
Harits pun segera berangkat. Ketika tiba di rumah paman-pamannya di Yatsrib, yang ditemuinya adalah wajah-wajah duka.
"Abdullah telah meninggal," kata mereka kepadanya, "mari, kami antar engkau ke pusaranya."
Harits
pun menyampaikan berita sedih itu ke Mekah. Melelehlah air mata di pipi
Abdul Muthalib. Namun, kesedihan yang paling berat dirasakan oleh
Aminah. Apalagi di saat itu ia tengah menantikan kelahiran bayinya.
"Selamat
jalan, Kanda," isak Aminah, "hilanglah seluruh kebahagiaan hidupku
bersamamu. Kini, tinggallah aku yang hidup untuk membesarkan bayi kita."
Tidak
lama lagi, bayi Aminah akan lahir. Bayi yang kelak ditakdirkan Allah
menjadi orang besar yang mengubah jalannya sejarah dunia.
*Peninggalan Abdullah*
Saat
meninggal, Abdullah meninggalkan lima ekor unta, sekelompok ternak
kambing, dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kelak
menjadi pengasuh Rasulullah. Nama aslinya adalah Barokah. Ia berasal
dari Habasyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar