Apa Itu Takwa ?
Takwa. ... Istilah ini sering ditemukan dalam Al-Quran, Al-Muttaqin (Arab: لِّلْمُتَّقِينَ Al-Muttaqin) yang merujuk kepada orang-orang yang bertakwa, atau dalam perkataan Ibnu Abbas, "orang-orang yang meyakini (Allah) dengan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan patuh akan segala perintah-Nya."
Takwa menurut Al-Qur'an surat Al-baqarah Ayat 2-5 yaitu adalah Iman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat, menginfaqkan harta atau menunaikan zakat, beriman kepada kitab-kitab Allah yang terdahulu hingga al-Qur’an, dan beriman kepada hari akhirat berikut ini FirmanNYA :
.

(Dzaalikal-kitaabu laa raiba fih, hudal lil-muttaqin)
(Alladziina yu’minuuna bil-ghaibi wa
yuqiimuunas-shalaata wa mimmaa razaqnaahum yunfiquun)
{3}Kemudian Allah ingin mengingatkan kita bahwa sebagian rezeki yang diberikan bukan semuanya untuk kita, tetapi ada terselip hak orang lain. Untuk membersihkannya kita harus memberikan sedikit rezeki yang kita punya untuk orang yang membutuhkan.
Takwa. ... Istilah ini sering ditemukan dalam Al-Quran, Al-Muttaqin (Arab: لِّلْمُتَّقِينَ Al-Muttaqin) yang merujuk kepada orang-orang yang bertakwa, atau dalam perkataan Ibnu Abbas, "orang-orang yang meyakini (Allah) dengan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan patuh akan segala perintah-Nya."
Takwa menurut Al-Qur'an surat Al-baqarah Ayat 2-5 yaitu adalah Iman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat, menginfaqkan harta atau menunaikan zakat, beriman kepada kitab-kitab Allah yang terdahulu hingga al-Qur’an, dan beriman kepada hari akhirat berikut ini FirmanNYA :
.

(Dzaalikal-kitaabu laa raiba fih, hudal lil-muttaqin)
Kitab
(Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang
bertakwa
(Alladziina yu’minuuna bil-ghaibi wa
yuqiimuunas-shalaata wa mimmaa razaqnaahum yunfiquun)
{1}(Yaitu)
mereka yang beriman kepada yang gaib, {2}yang melaksanakan shalat, dan {3}menginfakkan
sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
{1}Mengapa
kita disuruh beriman kepada yang gaib dahulu? Itu karena Allah ingin kita kenal
siapa yang kita sembah, untuk siapa kita beribadah. Yang kita sembah adalah
Allah, Allah tidak bisa kita lihat, karena Allah adalah Yang Maha Ghaib.
{2}Setelah kita tahu siapa yang kita sembah, barulah Allah menyuruh kita untuk melaksanakan shalat, Allah ingin kita memujinya, dan berdoa hanya kepadanya.
{2}Setelah kita tahu siapa yang kita sembah, barulah Allah menyuruh kita untuk melaksanakan shalat, Allah ingin kita memujinya, dan berdoa hanya kepadanya.
{3}Kemudian Allah ingin mengingatkan kita bahwa sebagian rezeki yang diberikan bukan semuanya untuk kita, tetapi ada terselip hak orang lain. Untuk membersihkannya kita harus memberikan sedikit rezeki yang kita punya untuk orang yang membutuhkan.
(Walladziina yu’minuuna bimaa undzila
ilaika wa maa unzila ming qablik, wa bil –aakhirati hum yuuqinuun)
Dan
mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan
(kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan
adanya akhirat
Pada ayat ini Allah melanjutkan
syarat-syarat menjadi orang yang bertaqwa, yaitu harus beriman kepada Kitab-kitab
Allah, dan yakin bahwa kiamat itu ada.

(Ulaa ika alaa hudam mir rabbihim wa
ulaa iku humul-muflihun)
Merekalah yang mendapat
petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Bertakwa = Beruntung, artinya orang-orang yang benar-benar bertakwa maka hidupnya penuh dengan keberuntungan, itulah janji Allah bagi orang yang bertakwa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar