Bagian ke 11 ( Masa Remaja Muhammad )
*Perang Fijar*
*Perang Fijar*
Sebagai
seorang remaja yang tumbuh di lingkungan Jazirah Arab. Muhammad juga
mengalami perang. Perang itu disebut Perang Fijar.
Saat peperangan dimulai, Umur Muhammad memasuki lima belas tahun.
Perang itu sendiri disebabkan sebuah pembunuhan.
Barradz
bin Qois dari Bani Kinanah membunuh Urwa Ar-Rahhal bin Utba dari Bani
Hawazin, hanya karena Barradz jengkel ketika Urwa dipilih untuk memimpin
kafilah dagang Nu'man bin Mundhir yang kaya.
Diam diam , Barradz mengikuti kafilah Urwa dari belakang dan membunuh Urwa.
Padahal ketika itu adalah bulan suci, bulan yang tidak diperkenankan bagi siapa pun untuk menumpahkan darah.
Karena
Quraisy pelindung Barradz, Bani Hawazin mengumumkan perang terhadap
Quraisy untuk membalas kematian Urwa. Perang pun pecah pada bulan suci.
Selama empat tahun berturut-turut, kedua belah pihak saling menyerang.
Dalam
pertempuran itu, awalnya Muhammad bertugas memunguti anak panah lawan
yang berjatuhan dan memberikannya kepada paman-pamannya. Namun, pada
tahun-tahun berikutnya, dia juga meluncurkan panah ke arah lawan untuk
melindungi paman-pamannya.
Perang
pun berakhir dengan perdamaian ala pedalaman: pihak yang menderita
lebih sedikit korban manusianya harus membayar ganti rugi kepada pihak
lainnya sejumlah selisih kelebihan korban. Dalam hal ini, pihak Quraisy
yang lebih sedikit menderita korban harus membayar kelebihan korban
sebanyak dua puluh orang Hawazin.
*Barradz bin Qois*
Barradz bin Qois, si penyebab Perang Fijar, adalah seorang pemabuk.
Karena
merusak citra sukunya, dia diusir dan mendapat naungan suku lain. Namun
di sana, dia juga mabuk berat dan membuat onar kemudian diusir lagi.
Akhirnya,
Harb bin Muawiyah, ayah Abu Sofyan, menampungnya walaupun hampir saja
Barradz bin Qois diusir lagi, karena terus berbuat onar.
Dikarenakan
perlindungan Harb dari Quraisy inilah, Bani Hawazin menyerang Quraisy
ketika Barradz bin Qois membunuh Urwa bin Utba.
*HILFUL FUDHUL*
Selain
mengikuti peperangan, Muhammad yang masih remaja juga mengikuti sebuah
perjanjian yang amat baik. Perjanjian itu kelak dikenal dengan nama
Hilful Fudhul.
Perjanjian
ini bertujuan untuk melindungi hak-hak para pedagang asing yang sering
kali terdzalimi. Pencetus perjanjian ini adalah protes seorang pedagang
asing dari Yaman.
Saat itu, Ash bin Wa'il, seorang
saudagar Mekah, tidak mau membayar utang kepada si pedagang. Pedagang
itu lalu menggubah syair dan membacakannya di depan umum.
Syair
ini amat menggugah perasaan para pemuka Quraisy. Mereka khawatir
apabila dibiarkan terus, para pedagang Asing tidak mau lagi memasuki
Mekah. Apalagi Perang Fijar mengakibatkan mulai terjadinya perpecahan di
pihak Quraisy.
Sepeninggal Abdul Munthalib,
orang-orang Quraisy dari keluarga yang lain sudah mulai berani mencoba
menentang kekuasaan pemerintahan Quraisy. Maka dari itu, atas usulan
Zubair bin Abdul Munthalib, seorang paman Muhammad, orang-orang Quraisy
dari keluarga Hasyim, Zuhra, Taim berkumpul. Mereka bersepakat dan
berjanji atas nama Tuhan Maha Pembalas bahwa Tuhan akan berada di pihak
yang terdzalimi, sampai orang itu tertolong.
Pertemuan
ini sendiri berlangsung di rumah Abdullah bin Jud'an At Taimi yang
megah. Perjanjian Hilful Fudhul ini menjamin perlindungan terhadap
hak-hak orang lemah. Muhammad ikut menyaksikan perjanjian dan amat
menyukainya.
Di kemudian hari, setelah diutus
menjadi seorang Rosullullah, Muhammad bersabda: " _Aku tidak suka
mengganti perjanjian yang kuhadiri di rumah Ibn Jud'an itu dengan jenis
unta yang baik. Kalau sekarang aku diajak, pasti akan kutolak_"
*Besarnya Diyat*
Diyat adalah pembayaran ganti rugi.
Untuk kematian/wajah cacat total ganti ruginya sebanyak 100 ekor unta. Satu kaki/tangan/mata jadi buta diganti dg 50 ekor unta.
Jika wajah cacat total, nilai gantinya 100 unta.
Luka sampai menembus otak, 33 ekor unta.
Cacat kelopak mata, 25 ekor unta.
Satu jari hilang/tulang retak, 15 ekor unta.
Luka sampai tulang kelihatan, 10 ekor unta.
Satu gigi copot, 5 ekor unta.
Demikian seterusnya dalam ketetapan yang rinci.
*MENGGEMBALAKAN KAMBING*
Muhammad melewati masa remajanya dengan menggembalakan kambing. Beliau pernah berkata kepada para sahabatnya,
"Musa
diutus, dia menggembala kambing. Daud diutus, dia menggembala kambing.
Aku diutus juga menggembala kambing keluargaku di Ajyad."
Sambil menggembala, pikiran Muhammad menerawang,
"Siapa
yang menciptakan bintang-bintang yang begitu kemilau? Siapa yang
membuat udara untuk kuhirup? Siapa yang membuat jantungku berdetak?
Siapa yang membuat matahari mengejar bulan dan bulan mengejar matahari?"
Ribuan
pertanyaan seperti itu membuat Muhammad selalu sibuk berpikir. Hal itu
membuat akhlak beliau terjaga demikian baik dari perbuatan buruk yang
sering terjadi di Mekah.
Pada
saat itu, orang menyembah patung di mana-mana, laki-laki dan perempuan
yang bukan suami istri sering pergi berduaan, orang-orang melakukan
thawaf tanpa busana, pesta mabuk-mabukan setiap malam, dan masih banyak
keburukan lain.
Meski demikian, pernah juga Muhammad ingin pergi ke kota untuk melihat sebuah pesta pernikahan.
"Tolong jaga kambing-kambingku," pinta Muhammad kepada seorang teman gembalanya.
"Baiklah, memang sudah giliranmu yang pergi bersenang-senang," kata teman Muhammad.
"Selama ini, kami selalu ada di padang gembala seperti seorang pertapa."
Muhammad pun pergi memasuki Mekah.
Di ujung kota, ia melihat ada sebuah pesta pernikahan yang dipenuhi berbagai hiburan dan musik.
Namun,
belum sempat Muhammad tiba dirumah itu, tubuhnya tiba tiba disergap
keletihan. Muhammad duduk bersandar di dinding dan tertidur lelap sampai
pagi. Ia tidak sempat melihat tontonan di pesta sedikit pun.
Esok
harinya, Muhammad datang lagi ke Mekah dengan maksud yang sama. Kali
ini, sebelum ia tiba di tempat pesta, telinganya mendengar musik indah
yang turun dari langit, musik yang jauh lebih indah daripada semua musik
di dunia ini. Musik itu membuai Muhammad dan ia pun kembali tertidur.
Sejak
itu, Muhammad tidak lagi berminat untuk melihat pertunjukan musik di
pesta. Agar terhindar dari kenakalan yang sering dibuat para pemuda
seusianya.
Akhlak
Muhammad yang demikian baik selagi muda membuatnya disayang dan
dipercaya semua orang hingga ia pun dijuluki *Al Amin*, artinya "Yang
Dipercaya".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar