Bagian ke 14 ( Membangun Ka'bah )
Muhammad bukankah orang yang suka berpangku tangan,
tetapi aktif bergaul dalam masyarakat. Suatu hari terjadilah sebuah
peristiwa yang membuat nama Muhammad menjadi semakin harum. Peristiwa
itu didahului oleh banjir besar yang melanda Mekah. Bukit-bukit di
sekitar Mekah tanpa ampun menumpahkan air hujan yang jarang turun itu ke
kota yang tepat berada di bawah. Banjir itu menyebabkan dinding Ka'bah
yang memang sudah lapuk jadi retak dan terancam runtuh.
Sebenarnya,
sebelum banjir tiba, sudah ada gagasan untuk memperbaiki Ka'bah, tetapi
orang-orang takut apabila Tuhan Ka'bah marah. Setelah banjir, tidak
bisa dielakkan lagi bahwa dinding Ka'bah harus diperbaiki dan
ditinggikan.
Sudah menjadi takdir Allah bahwa
waktu itu juga tersiar berita ada sebuah kapal Romawi terdampar di laut
Merah, dekat dengan pelabuhan Syu'aibah. Kapten kapal Romawi itu adalah
seorang Nasrani yang berasal dari Mesir. Baqum, namanya.
Orang-orang
Mekah mengutus Walid bin Mughirah dan serombongan orang untuk membeli
kapal itu, membongkar kayu kayunya, dan mengangkutnya untuk membangun
kembali Ka'bah. Baqum pun akhirnya dikontrak sebagai ahli kayu.
Pada
mulanya, tidak seorang pun berani membongkar dinding Ka'bah walau
sedikit, karena takut dikutuk Tuhan. Mungkin mereka masih ingat dengan
jelas apa yang menimpa Abrahah dan pasukan gajahnya saat ingin
menghancurkan Ka'bah.
Akan tetapi, akhirnya, Walid
bin Mughirah memberanikan diri merombak sudut bangunan bagian selatan.
Setelah itu, ia menunggu sampai besok. Ketika pagi tiba dan ia tidak
juga dikutuk, mereka pun mulai melakukan pembenahan Ka'bah.
Dalam pengerjaan Ka'bah orang-orang Quraisy dibagi
menjadi empat bagian. Setiap kabilah masing-masing mendapat pekerjaan
satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali.
Pemugaran
Ka'bah dimulai dengan memindahkan patung Hubal dan patung kecil
lainnya. Setelah itu, pekerjaan dilanjutkan dengan membersihkan
pelataran dan membongkar dinding serta fondasi. Muhammad ikut terlibat
dalam pekerjaan yang berlangsung berhari-hari itu.
Ada
sebuah batu fondasi berwarna hijau yang tidak bisa dibongkar dengan
cara apa pun. Karena itu, batu itu mereka biarkan. Selanjutnya,
didatangkanlah batu-batu granit biru dari bukit sekitarnya. Sebuah bahan
pencampur semen bernama bitumen yang didatangkan dari Syria pun mulai
digunakan.
Pemugaran Ka'bah ini sebenarnya lebih menyerupai perbaikan hasil karya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Pondasi
Ka'bah ditinggikan sampai empat hasta ditambah satu jengkal atau
sekitar dua meter. Dalamnya diuruk tanah menjadi lantai yang sulit
dicapai air apabila banjir datang kembali. Bersamaan dengan itu, pintu
di sisi timur laut pun diangkat setinggi pondasi. Dinding dinaikkan
sampai 18 hasta. Saat itulah Ka'bah mulai diberi atap bekas kapal yang
kandas itu. Sebuah tangga untuk naik turun juga disiapkan. Kini Ka'bah
bebas dari banjir. Isinya terlindungi dari hujan, panas dan tangan jahil
pencuri.
Pembangunan
berjalan lancar sesuai dengan rencana sampai dinding tembok mencapai
tinggi satu setengah meter dan tiba saatnya batu hitam, Hajar Aswad,
ditempatkan kembali ke tempatnya semula di sudut timur.
Karena
ini merupakan upacara suci penuh kehormatan, berebut lah setiap kabilah
untuk melaksanakannya. Kabilah Abdu Dar merasa lebih berhak daripada
Kabilah lain sehingga kedua kelompok saling beradu mulut sampai suasana
menjadi semakin panas.
Di
tengah keadaan itu, muncul Abu Umayyah bin Al Mughirah. Ia adalah
orangtua yang dihormati dan dipatuhi. Ia pun mengajukan sebuah usul yang
disetujui oleh semua pihak, "Serahkanlah putusan ini di tangan orang
yang pertama kali memasuki pintu Shafa."
*HAJAR ASWAD*
Ternyata yang datang pertama kali dari pintu Shafa adalah Muhammad. Orang-orang pun bersorak lega.
"Ini dia Al Amin" seru mereka.
"Dia adalah orang yang bisa dipercaya. Kami yakin dia bisa memecahkan persoalan ini. Kami akan menerima putusannya."
Orang-orang
Quraisy pun menceritakan persoalan yang mereka alami. Muhammad yang
saat itu belum berumur 30 tahun, memandang mereka dengan matanya yang
teduh dan bijaksana. Muhammad melihat berkobarnya api permusuhan pada
mata setiap orang dari masing-masing kabilah Quraisy. Keadaan ini
benar-benar genting. Kalau salah mengambil keputusan, akan terjadi
pertumpahan darah di antara kabilah-kabilah itu.
Muhammad berpikir sejenak, lalu dia berkata,
"tolong bawakan sehelai kain."
Kain
pun segera diberikan. Muhammad mengambil dan menghamparkan kain itu.
Dia lalu mendekati Hajar Aswad. Diangkatnya batu hitam itu dan
diletakkan di tengah-tengah.
"Hendaknya, setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini," kata beliau lagi.
Kemudian,
para ketua kabilah memegang ujung kain dan bersama-sama mengangkat
Hajar Aswad. Di tempat Hajar Aswad semula berada. Muhammad mengangkat
dan meletakkannya kembali.
Semua
pihak merasa amat puas dengan keputusan Muhammad yang adil itu.
Demikianlah, pada waktu muda. Rasulullah telah menjadi orang yang cerdas
dan bijaksana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar