Bagian ke 13 Pernikahan Agung
Khadijah
memiliki teman seorang wanita bangsawan bernama Nafisah binti Munyah.
Nafisah tahu setelah suami kedua Khadijah meninggal, banyak bangsawan
Quraisy yang melamarnya, namun Khadijah menolak. Nafisah tahu bahwa
Khadijah takut semua lamaran itu hanya bertujuan mengincar hartanya.
Lebih dari itu, Nafisah juga tahu bahwa yang diinginkan Khadijah adalah
seorang laki-laki berakhlak agung. Nafisah juga tahu bahwa ada satu
laki-laki yang seperti itu di Mekah, ia adalah Muhammad.
Karena
itulah, begitu Khadijah membuka diri kepadanya tentang Muhammad,
Nafisah tidak terkejut lagi. Khadijah meminta Nafisah mencari jalan
untuk mengetahui bagaimana pandangan Muhammad tentang dirinya. Maka,
ketika Muhammad dalam perjalanan pulang dari Ka'bah, Nafisah
menghentikannya. Nafisah pun bertanya,
"Wahai
Muhammad, Anda telah menjadi seorang pemuda. Banyak lelaki yang lebih
muda dari Anda telah menikah dan beberapa di antaranya bahkan telah
mempunyai anak. Mengapa Anda tidak menikah?"
"Aku belum mampu menikah, ya Nafisah. Aku belum mempunyai kekayaan yang cukup untuk menikah."
"Apa jawaban Anda jika ada seorang wanita yang cantik, kaya, dan terhormat mau menikah dengan Anda walaupun Anda belum mampu?"
Muhammad balik bertanya dengan sedikit terperangah,
"Siapakah wanita itu?"
Nafisah tersenyum, "Wanita itu adalah Khadijah putri Khuwailid."
Alis Muhammad tambah terangkat,
"Khadijah?
Bagaimana mungkin Khadijah mau menikah denganku? Bukankah Anda tahu
bahwa banyak bangsawan kaya raya dan kepala-kepala suku di Arab ini yang
telah melamarnya dan ia telah menolak mereka semua?"
"Jika Anda mau menikahinya, katakan saja dan serahkan semuanya kepadaku. Aku akan mengurus semuanya."
Ketika itu Abu Thalib menyetujuinya, Muhammad pun mengiyakan Nafisah. Maka, pernikahan pun dilangsungkan.
Sebagai pengantin, Muhammad datang didampingi paman-pamannya yang ikut berbahagia.
*Perawakan Muhammad*
Jarang
ada pernikahan dilangsungkan demikian agung. Dalam acara itu, semua
pemimpin Quraisy dan pembesar Mekah diundang. Mempelai laki-laki
menunggang kuda yang gagah diiringi para pemuda Bani Hasyim yang
menghunus pedang. Sementara itu, kaum wanita Bani Hasyim berjalan lebih
dulu dan telah diterima di rumah mempelai wanita.
Rumah
Khadijah yang megah saat itu telah diterangi cahaya lilin dalam
lampion-lampion yang digantung dengan rantai-rantai emas. Setiap lampion
terdiri atas 7 batang lilin.
Semua
pembantu Khadijah diberi seragam khusus untuk menyambut para tamu yang
datang menjelang sore hari. Kamar pengantin benar-benar istimewa. Kain
sutera dan brokat digantung begitu serasi. Lantainya tertutup karpet
putih dan diharumi dupa dari guci perak.
Khadijah
sendiri begitu anggun hingga tampak bercahaya seperti matahari terbit.
Ia mengenakan pakaian pengantin yang sangat indah dan jarang ada duanya
saat itu. Abu Thalib adalah wakil mempelai laki-laki dalam memberi
sambutan, sedangkan Waraqah bin Naufal adalah wakil pengantin wanita.
Tidak
ada laki-laki segagah Muhammad. Paras wajahnya tampan dan indah.
Perawakannya sedang, tidak terlampau tinggi, juga tidak pendek.
Rambutnya hitam sekali dan bergelombang. Dahinya lebar dan rata di atas
sepasang alis yang lengkung, lebat dan bertaut. Sepasang matanya lebar
dan hitam, di tepi putih matanya agak kemerahan, tampak lebih menarik
dan kuat. Pandangannya tajam dengan bulu mata yang hitam pekat.
Hidungnya halus dengan barisan gigi yang bercelah-celah.
Cambangnya
lebar, berleher jenjang, dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu
yang bidang. Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak
tangan dan kaki yang tebal. Jika berjalan, badannya agak condong ke
depan, melangkah cepat-cepat, dan pasti. Air mukanya membayangkan
renungan dan penuh pikiran, pandangan matanya menunjukkan kewibawaan,
membuat orang patuh kepadanya.
*Sifat Muhammad*
Muhammad
telah mendapat karunia Allah dengan pernikahan ini. Dari seorang pemuda
tidak kaya, Allah telah mengangkatnya menjadi laki-laki berkedudukan
tinggi dengan harta yang mencukupi.
Seluruh
penduduk Mekah memandang pernikahan ini dengan gembira dan penuh rasa
hormat. Semua undangan yang hadir berharap bahwa dari pasangan yang
sangat ideal ini kelak lahir keturunan yang akan mengharumkan nama
Quraisy.
Para sesepuh
dari kedua keluarga tahu bahwa Khadijah akan mendukung suaminya dengan
kasih sayang dan harta berlimpah. Sebaliknya, mereka juga berharap bahwa
Muhammad yang bijak dan cerdas akan membimbing istrinya menuju
kebahagiaan hidup.
Kehidupan
berlanjut dan keikutsertaan suami istri itu dalam pergaulan yang baik
dengan masyarakat membuat orang semakin menghormati mereka. Walau telah
mendapat kehormatan demikian itu, Muhammad tetaplah seorang yang rendah
hati. Itu adalah sifatnya yang menonjol. Jika ada yang mengajaknya
berbicara, tidak peduli siapa pun itu, ia akan mendengarkan dengan penuh
perhatian tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak saja mendengarkan
dengan hati-hati, Muhammad bahkan memutar badannya untuk menghadap orang
yang mengajaknya berbicara.
Semua
orang tahu bahwa bicara Muhammad sedikit. Ia justru lebih banyak
mendengarkan pembicaraan orang lain. Selain bicara, Muhammad bukanlah
orang yang tidak bisa diajak bergurau. Ia sering juga membuat humor dan
mengajak orang lain tertawa, tetapi apa yang ia katakan dalam bergurau
sekali pun adalah sesuatu yang benar.
Orang
menyukai Muhammad yang apabila tertawa, tidak pernah sampai terlihat
gerahamnya. Apabila marah, tidak pernah sampai tampak kemarahannya.
Orang tahu ia marah hanya dari keringat yang tiba-tiba muncul di
keningnya. Muhammad selalu menahan marah dan tidak menampakkannya
keluar.
Orang-orang
menyayangi Muhammad karena ia lapang dada, berkemauan baik, dan
menghargai orang lain. Ia bijaksana, murah hati, dan sangat mudah
bergaul dengan siapa saja. Namun, dibalik semua kelembutan itu, ia
mempunyai tujuan yang pasti, berkemauan keras, tegas, dan tidak pernah
ragu-ragu dalam tujuannya. Sifat-sifat demikian berpadu dalam dirinya
sehingga menimbulkan rasa hormat yang dalam bagi orang-orang yang
bergaul dengan Muhammad.
*Mahar Pernikahan*
"Saksikanlah
para hadirin," kata Waraqah bin Naufal dengan suara agak keras.
"Saksikanlah bahwa aku menikahkan Khadijah dengan Muhammad, dengan mas
kawin senilai 12 ekor unta betina."
*Kambing Sedekah*
Setelah
upacara resmi pernikahan selesai, Muhammad memerintahkan agar seekor
kambing disembelih di depan pintu rumah Khadijah dan membagikan
dagingnya kepada fakir miskin. Itu belum termasuk para undangan yang
menghadiri jamuan pada malam harinya.
Jadi, selain diundang jamuan makan, fakir miskin pun dapat membawa pulang ke rumah beberapa kantung daging.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar